Kamis, 07 Oktober 2010

"Kisah Isra' Mi'raj Karya Syeikh Najmuddin al Ghaitiy" (Terj. Part. 2)

...(lanjutan)....

Lalu dibukakanlah pintu langit untuk Jibril dan Nabi. Setibanya disana Nabi Muhammad bertemu dengan nabi Yusuf diikuti seorang pengikutnya. Nabi mengucapkan salam dan dibalas oleh nabi Yusuf.
            “Selamat datang wahai saudara muda dan sang nabi penutup”.
            Nabi Yusuf kemudian berdoa untuk kebaikan Nabi Muhammad. Seketika itu nabi Yusuf juga mendapatkan separuh kebaikan.
            Karenanya dalam suatu riwayat disebutkan bahwa sebaik-baik makhluk ciptaan Allah adalah mereka yang mementingkan orang lain dengan kebaikan layaknya sinar malam bulan purnama yang mengalahkan sinar seluruh bintang.
            “Siapakah dia, hai Jibril?”, Tanya Nabi penasaran.
            “Dia saudaramu, Yusuf”, jawab Jibril.
            Setelah itu Nabi naik menuju langit keempat. Jibril minta dibukakaan pintu langit, namun ditanya lagi.
            “Sipakah ini?”.
            “Saya Jibril”, terangnya.
            “Siapakah yang bersamamu?”, ditanya.
            “Dialah Muhammad”, jawab Jibril.
            “Apakah dia diutus oleh Allah?”, ditanya lagi.
            “Iya, benar”, jawab Jibril.
            “Selamat datang wahai Nabi. Semoga Allah memberikan panjang umur kepada para Ahli Bait, saudara, dan  khalifah. Sungguh beruntung mereka dan orang yang didatangi olehnya”, sambut malaikat penjaga.
            Lalu dibukakanlah pintu langit untuk Jibril dan Muhammad. Ketika keduanya telah sampai, tiba-tiba Nabi bertemu dengan Nabi Idris, seorang rasul yang diangkat derajatnya oleh Allah ke tempat yang mulia. Nabi mengucapkan salam lalu dibalas olehnya:
            “Selamat datang wahai saudara muda dan sang penutup para nabi”.
            Nabi Idris berdoa untuj kebaikan beliau.
            Setelah itu, Nabi naik menuju …[HAL.18]… langit kelima. Jibril minta dibukakan pintu langit, namun ditanyai lagi.
            “Siapakah ini?”, Tanya malaikat penjaga gerbang.
            “Saya Jibril”, jawabnya.
            “Siapakah yang bersamamu?”, ditanya.
            “Dialah Muhammad”, jawab Jibril.
            “Apakah dia utusan Allah?”, ditanya lagi.
            “Iya, benar”, tegas Jibril.
            “Selamat datang wahai Nabi. Semoga Allah  menganugrahkan umur panjang kepada para Ahli Bait, saudara, dan para khalifah. Sungguh beruntung mereka dan orang yang didatangi olehnya”, sambut malaikat penjaga.
            Lalu dibukakanlah pintu langit untuk Jibril dan Nabi. Setibanya disana Nabi langsung bertemu dengan Nabi Harun. Separo jenggotnya berwarna putih dan separonya hitam. Panjangnya hampir mencapai pusar. Dia dikerumuni oleh orang-orang Bani Israil. Nabi Harun sedang bercerita tentang kaum pendahulu mereka. Nabi Muhammad menghampiri sambil mengucapkan salam yang dibalas pula oleh Harun.
            “Selamat datang wahai saudara muda dan sang penutup para nabi”.
            Doa Nabi Harun untuk kebaikan Nabi Muhammad.
            Setelah keduanya berlalu, Muhammad bertanya kepada Jibril.
            “Sipakah dia?”, tanya Nabi penasaran.
            “Dialah Harun putra Imran, seseorang yang sangat dicintai umatnya”, jelas Jibril. (#)
            Selanjutnya Jibril dan Nabi naik menuju langit keenam. Seperti sebelumnya,terjadi percakapan antara Jibril dan malaikat penjaga pintu langit.
            “Siapakah ini?”, tanya malaikat penjaga.
            “Aku Jibril”, jawab Jibril.
            “Siapakah yang bersamamu?”, tanyanya.
            “Dialah Muhammad”, jawabnya singkat.
            “Apakah dia utusan Allah?”, tanyanya lagi.
            “Iya, benar”, tegas Jibril.
            Setelah tahu beliau adalah seorang Rasul segera malailat penjaga langit menyambutnya.
            “Selamat dating wahai Nabi. Semoga Allah menganugrahi panjang umur kepada para kerabat, saudara dan para khalifah. Mereka sungguh beruntung karena berjumpa denganmu”, sambutnya.
            Terbukalah pintu langit teruntuk Jibril dan Nabi. Setibanya disana beliau berjumpa dengan para nabi dengan masing-masing pengikutnya. Ada juga nabi yang sendirian. Tiba-tiba dari kejauhan Nabi melihat segumpalan awan hitam yang menghalangi cakrawala langit. Beliau pun memanyakannya pada Jibril.
            “Siapakah mereka?”.
            “Mereka adalah Musa dan para pengikutnya”, terang Jibril. “Sebaiknya Anda sambil mendongakkan kepala”, sarannya kemudian kepada Nabi. Segera beliau tahu bahwa gumpalan awan hitam itu menutupi cakrawala langit dari segala sisi.
            “Mereka semua adalah umatmu, namun hanya 70.000 saja yang masuk surga tanpa hisab”, terang Jibril.
            Ketika Jibril dan Nabi dating langsung bertemu dengan Nabi Musa bin Imran, laki-laki yang berwarna kulit sawo matang, berbulu lebat, dan bertubuh tinggi seperti pria garang. Saking lebatnya, sekalipun ia memakai dua lapis baju bulu-bulunya masih bisa menembusnya. Kembali Nabi Saw segera mengucapkan salam. Nabi Musa pun membalasnya.
            “Selamat datang wahai saudara muda penutup para nabi”, sambutnya sambil berdoa untuk kebaikan beliau.
            “Orang-orang mengira akulah keturunan Adam yang paling mulia di hadapan Allah. Namun kini Muhammad-lah yang lebih mulia”, ujarnya mengakui. Dia pun menangis ketika berpapasan dengan Nabi Muhammad.
            “Apa yang membuatmu menangis, hai Musa?”, tanya Nabi menyelidik.
            “Aku menangis karena seseorang sesudah aku sedang diutus oleh Allah. Umatnya yang akan masuk surge lebih banyak daripada umatku. Bani Israil menganggap diri mereka sebagai keturunan  Adam yang paling mulia di hadapan Allah. Adapun kini Muhammadlah yang menggantikan aku dalam urusan dunia. Cukuplah aku sekarang di akhirat. Apapun yang terjadi pada dirinya aku tidak akan ikut campur karena dia bersama umatnya dan tidak sendirian”, jawabnya sesenggukan.
            Berikutnya Jibril dan Nabi naik menuju …[HAL.19]… langit ketujuh. Seperti sebelumnya, Jibril minta dibukakan pintu langit. namun ditanya malaikat penjaga terlebih dahulu:
            "Siapa ini?"
            "Aku Jibril", jawabnya.
            "Siapakah yang bersamamu?", tanya malaikat penjaga.
            "Dialah Muhammad", terang Jibril.
            "Apakah dia utusan Allah?", tanya malaikat penjaga setengah tercengang.
            "Ya, benar", jawab Jibril tegas.
            Spontan malaikat penjaga pun menyambut beliau.
            "Selamat datang wahai nabi. Semoga Allah berkenan memberikan umur panjang kepada para kerabat, saudara, dan para khalifah. Mereka sungguh beruntung karena berjumpa denganmu”, ujarnya.
            Lalu dibukakanlah pintu langit teruntuk Jibril dan Nabi. Ketika sampai Nabi Saw langsung bertemu dengan Ibrahim -sahabat karib Nabi- sedang duduk di atas kursi emas di pintu surga sambil menyandarkan punggungnya pada Baitul Malmur ditemani seorang pengikutnya. Nabi Saw mengucapkan salam, nabi Ibrahim pun membalas salam.
            "Selamat datang wahai putra yang terakhir dan penutup para nabi", sambut Ibrahim. "Perintahkanlah umatmu untuk memperbanyak ladang di surga. Karena tanamannya itu nantinya baik lahannya juga luas”, tambahnya.
            “Apa ladangnya surga?”, tanya Nabi.
             “Ladangnya adalah lafadz: ‘لاحولا ولا قوة إلا بالله العلي العظيم (artinya: Segala daya upaya dan kekuatan hanyalah milik Allah Dzat Yang Maha Tinggi Lagi Maha Agung)”, terang Ibrahim.
            Dalam suatu riwayat, Ibrahim berkata:
            “Sampaikan salamku kepada umatmu dan beritahu mereka bahwa surga itu tanamannya bagus dan airnya tawar, sedangkan ladangnya adalah; سبحان الله والحمدلله ولا إله إلاالله و الله اكبر (artinya: Maha Suci Allah, segala puji bagi Allah, tiada Tuhan selain Allah, dan Allah Maha Besar)”.  
            Para pengikut nabi Ibrahim sedang duduk dengan wajah putih terang bak kertas, ada pula yang berwarna-warni wajahnya. Orang-orang yang beraneka warna wajahnya sontak berdiri lalu menceburkan diri ke sungai dan mandi di dalamnya, namun hanya satu warna saja yang hilang. Mereka pun kembali masuk sungai dan mandi di dalamnya, lagi-lagi hanya satu warna saja yang hilang. Mereka pun masuk sungai lagi untuk ketiga kalinya membersihkan diri. Barulah akhirnya wajah mereka menjadi putih seperti kawan-kawannya. Mereka pun kembali duduk bersama kawan-kawannya seperti semula tanpa canggung.
            Melihat kejadian tersebut, Nabi Muhammad penasaran bertanya kepada Jibril:
            “Hai Jibril, siapakah mereka yang berwajah terang? Siapakah pula merek yang beraneka warna wajahnya? Lalu, sungai apakah yang mereka gunakan untuk membersihkan diri ini?”, tanya Nabi bertubi-tubi.
            “Mereka yang berwajah terang adalah orang-orang yang tidak menodai iman mereka dengan kesesatan. Sedangkan mereka yang berwajah belang adalah orang-orang yang menodai amal baik mereka dengan keburukan. Namun mereka telah bertaubat dan Allah menerima taubat mereka. Adapun sungai-sungai itu yang pertama adalah rahmat Allah, yang kedua adalah nikmat Allah, dan yang ketiga adalah air suci yang dianugerahkan Allah untuk mereka”, jelas Jibril panjang lebar.
            “Disinilah tempatmu dengan para umatmu”, seketika Nabi diberitahu.
            Disanalah kemudian beliau bertemu dengan umatnya sedang memakai dua kain penutup. Yang satu kain putih seperti kertas sedang mereka pakai. Sedangkan yang lain memakai pakaian warna abu-abu. Lalu Nabi masuk ke Baitul Makmur diikuti orang-orang yang memakai kain putih. Adapun orang-orang yang memakai pakaina abu-abu terhalang masuk.
            Orang-orang di dalam Baitul Makmur dalam keadaan senang dan melakukan salat berjamaah bersama orang-orang yang beriman lainnya. Karena itulah tiap hari 70.000 malaikat masuk ke sana dan tidak kembali lagi sampai hari Kiamat. Ibarat sebuah kerikil yang dilemparkan pada Ka’bah lalu jatuh di bawahnya dan tidak mungkin dapat kembali lagi ke atas.
            Dalam suatu riwayat, Nabi disuguhi tiga gelas minuman. Beliau memilih susu dan Jibril membenarkan pilihan tersebut. Sebagaimana dalam riwayat, Jibril berkata: “Inilah kesucianmu dan umatmu”.
            Selanjutnya, Nabi naik menuju Sidratul Muntaha. Disanalah akhir perjalanan Mi’raj Nabi sejak dari bumi. Dimana beliau tinggal dan disana pulalah perjalanan Mi’raj nabi sejak turun dari atas kembali lagi ke bumi.
            [HAL.20] Di dalamnya juga terdapat sungai berair segar, sungai susu yang awet rasanya, sungai arak yang sangat lezat diminum, dan sungai dari madu pilihan yang semuanya bermuara dari akar sebuah pohon. Dimana seorang bisa berteduh di bawahnya. Bahkan mampu bertahan selama 70 tahun karena buahnya seluas lahan pedesaan dan daunnya seperti telinga gajah yang hamper menutupi seluruh umat manusia di bumi.
               Dalam suatu riwayat diceritakan bahwa daun tersebut mampu meneduhi para makhluk. Pada tiap helai daun dihuni oleh para malaikat. Daun-daun itu mempunyai warna-warni yang aneh. Saat itulah atas kuasa Allah daun itu tidak dinodai lagi dan pudarlah warna-warninya.   
            Dalam suatu riwayat, daun itu berubah menjadi mutiara dan batu permata. Tidak seorang pun yang dapat mensifati keindahannya. Di dalamnya hidup seekor belalang emas. Sedangkan dari pangkal akar pohonnya mengalir dua sungai dalam dan dua sungai luar.           “Hai Jibril, sungai apa ini?”, tanya Nabi kepada malaikat Jibril tiba-tiba.
            “Dua sungai dalam adalah dua sungai yang ada di surga, sedangkan dua sungai luar adalah sungai Nil dan sungai Eufrat”, jawab Jibril.
            Dalam sebuah riwayat diceritakan bahwa Nabi melihat Jibril di Sidratul Muntaha. Dia memiliki 600 sayap. Tiap sayap mampu menutupi langit cakrawala. Dia terbang dengan sayap-sayapnya sambil berhiaskan mutiara dan permata Yaqut yang sangat menakjubkan dan hanya Allah yang kuasa melihatnya.
            Selanjutnya Nabi menuju tepi danau Kautsar sampai masuk ke surge. Disana beliau melihat sesosok makhluk yang melihat tidak dengan mata dan mendengar tidak dengan telinga. Bahkan tidak mempunyai perasaan dan hati.
            Nabi melihat sebuah tulisan di pintu surga yang berbunyi: “KEUTAMAAN SODAQOH ITU SEPULUH KALI SEDANGKAN MEMBERIKAN PINJAMAN ITU 18 KEUTAMAAN”.  
            “Hai Jibril, mengapa pinjaman itu lebih utama daripada sedekah?”, tanya Nabi penasaran.
            “Karena seorang peminta itu hanya meminta saja padahal ia sendiri memiliki harta. sedangkan seorang peminjam hanya minta dipinjami ketika butuh saja”, terang Jibril.
            Nabi melanjutkan perjalanan tiba-tiba ia menjumpai sungai dari susu yang murni, sungai arak yang memabukkan siapapun yang meminumnya, dan sungai dari madu pilihan. Di surge juga ada kubah mutiara, serta pohon delima yang buahnya seperti timba-timba bergantungan.
            Dalam suatu riwayat, di surga juga ada buah delima yang memiliki kulit setebal unta yang padat berisi seperti kulit unta berpunuk unta.
            “Hai Rasulullah, sesungguhnya delima itu menjadi milik kita di surga”, tukas Abu Bakar suatu kali setelah mendengar kisah Nabi.
            “Aku sudah makan dan menikmatinya. Aku berharap kamu jugaakan memakannya”, kata Nabi.
            Beliau menjumpai kubah-kubah mutiara berlubang di lembah telaga Kautsar. Sedangkan tanah liatnya terkandung minyak misik yang sangat wangi. Selanjutnya Nabi ditunjukkan pada sebuah neraka. [HAL. 22]… yang di dalamnya terdapat segala murka, celaan, dan siksa dari Allah. Sekalipun jika batu dan besi dimasukkan ke dalamnya mesti luluh lantak dilahap api nerakanya.
            Di dalam neraka Nabi juga melihat orang yang sedang memakan bangkai. Beliau pun bertanya pada Jibril:
            “Siapakah mereka?”, tanya Nabi.
            “Mereka adalah orang-orang yang suka memakan daging manusia”, jelas Jibril.
            Beliau juga menjumpai malaikat Malik sang penjaga neraka. Dia layaknya seorang pria kekar yang terkenal bengis dilihat dari wajahnya. Nabi Saw pun terlebih dahulu menyapanya dengan salam. Setelah kepergian beliau, pintu neraka pun tertutup kembali.
            Selanjutnya Nabi dinaikkan menuju Sidratul Muntaha. Di sana beliau diiiringi bayangan awan mendung yang berwarna-warni. Sampai di situlah malaikat Jibril tidak lagi mengikuti Nabi. [HAL. 23] Tibalah beliau Saw melakukan Mi’raj menuju sumber bunyi derik goresan pena yang ia dengar.
            Nabi melihat seorang laki-laki yang terpenjara dalam cahaya ‘Arsy lalu menanyakannya:
            “ Siapakah dia? Apakah dia malaikat?”, tanya Nabi.
            “Bukan”, jawab suara misterius.
            “Apakah ia nabi?”, tanya beliau.
            “Bukan”, jawab suara itu.
            “Lalu, siapakah dia?”, tanyanya lagi.
            “Dia adalah seorang laki-laki yang selama hidupnya di dunia dulu lisannya basah karena banyak berdzikir kepada Allah Swt dan hatinya selalu ingat pada masjid. Ia juga tidak pernah mencela kedua orang tuanya sama sekali”, dijelaskan kepada Nabi.
            Kemudian Nabi Saw melihat Tuhannya, Allah Swt, seketika beliau bersimpuh bersujud. Pada saat itulah Tuhannya memanggilnya:
            “Hai Muhammad!”.
            “Aku telah penuhi panggilanMu, Ya Rabb”, sahut Nabi.
            “Mintalah sesuatu kepadaKu!”, perintah Allah.
            “Sungguh Engkau telah menjadikan Ibrahim sebagai Kekasih dan memberikan kepdanya sebuah istana yang megah. Engkau telah berfirman kepada Musa dengan sebenar-benarnya. Engkau telah memberikan kepda nabi Dawud sebuah istana yang megah dan karena kuasaMu dia mampu menjinakkan sebatang besi. Engkau telah menciptakan gunung. Engkaulah yang memberikan istana yang megah kepada nabi Sulaiman dan karena kuasaMu-lah dia mampu merajai jin, manusia, dan para setan …[HAL. 24]… juga angin. Engkau telah memberikan kepadanya sebuah istana yang tidak layak diberikan kepada orang lain. Engkau pun telah mengajarkan nabi Isa dengan kitab Taurat dan Injil serta Engkau jadikan ia mampu menyembuhkan orang buta, penyakit kusta, dan menghidupkan orang mati dengan kuasaMu. Engkau melindunginya dan ibunya dari godaan setan yang terlaknat. Hingga setan pun tidak mampu menggoda mereka berdua lagi”, aku Nabi merendah.
            “Aku menjadikanmu sebagai Kekasih”, firman Allah. Seorang periwayat menerangkan bahwa nabi Muhammad disebutkan dalam kitab Taurat sebagai Kekasih Allah.
            “Aku mengutusmu sebagai pembawa kabar gembira dan pemberi peringatan kepada segenap manusia. Aku melapangkan dadamu, menghapuskan dosamu, dan mengangkat nama besarmu. Aku juga menyandingkan namamu bersama namaKu. Aku menjadikan umatmu sebagai umat paling unggul yang memberi petunjuk kepada manusia lain dan tetap berada di tengah. Aku menjadikan umatmu sebagai umat yang pertama dan terakhir. Aku jadikan umatmu tidak mempan dibujuk sebelum mereka mengakui bahwa engkau adalah hamba sekaligus utusanKu. Aku kuatkan hati umatmu dengan menurunkan kitab Injil. Aku menciptakan kamu sebagai pemimpin para nabi dan nabi terakhir yang diutus serta satu-satunya pemberi syafa’at daripada mereka. Aku memberimu tujuh ayat yang diulang-ulang (surah al Fatihah) yang tidak pernah diberikan kepada kepada nabi lain selain kamu. Aku memberimu penghujung surah Al Baqarah dari penyimpanan di bawah ‘Arsy yang tidak pernah diberikan kepada nabi lain selain kamu. Aku juga memberimu telaga Kautsar, delapan busur; yaitu islam, hijrah, jihad, shadaqah, puasa Ramadhan, perintah berbuat baik, dan larangan berbuat jahat. Sungguh pada hari ini Aku menciptakan langit dan bumi. Aku wajibkan kamu dan umatmu melaksanakan salat limapuluh kali sehari maka laksanakanlah bersama umatmu!”, firman Allah.
            Dalam suatu riwayat, Rasulullah Saw diberi wahyu salat lima kali sehari, ayat-ayat terakhir surah Al Baqarah, serta pengampunan dosa bagi orang yang tidak pernah menyekutukan Allah dengan sesuatu yang lemah.
            Kemudian langit mendung tidak lagi mengikuti Nabi. Jibril pun mengerahkan kekuatannya melesat dengan cepat membawa nabi bertemu dengan Ibrahim namun tidak ada saran. Lalu beliau menemui nabi Musa dan berkata:
            “Wahai sahabatku yang paling baik?”, sapa Nabi.
            “Apa yang terjadi denganmu, hai Muhammad? Apa yang diwajibkan Tuhanmu kepadamu dan umatmu?”, tanya nabi Musa penasaran.
            “Allah mewajibkan aku dan umatku untuk melaksanakan salat lima puluh kali sehari semalam”, jelas Nabi Muhammad.
            “Oh, demi kamu dan umatmu, kembalilah pada Tuhanmu dan mintalah keringanan-Nya. Karena sungguh umatmu tidak akan kuat melaksanakan hal itu. Sebelumnya aku juga telah …[HAL. 25]… memberitahu orang-orang sebelum kamu, tapi Bani Israil tidak perduli. Aku telah membantu mereka dengan cara yang paling mudah daripada ini, namun mereka masih saja tidak kuat melaksanakan dan malah meninggalkannya. Terlebih umatmu lemah baik secara fisik, badan, hati, penglihatan, maupun secara pendengaran”, kata Musa memberi saran.
            Berikutnya Nabi ganti berpaling pada Jibril meminta sarannya.
            “Jika Anda berkenan sebaiknya kembali saja”, saran Jibril.
            Beliau pun bergegas kembali sampai akhirnya menjumpai sebatang pohon. Bersamaan dengan hal itu awan mendung menaungi Nabi yang sedang menunduk bersujud sambil berdoa: “Wahai Tuhanku, berilah kemudahan pada umatku karena sesungguhnya mereka adalah umat yang sangat lemah”, pinta Nabi.
            Allah pun menjawab:
            “Sesungguhnya Aku telah mengurangi perintah solat menjadi salat lima kali dalam sehari”, firman-Nya.
            Kemudian awan mendung berubah terang dan beliau menuju kembali pada nabi Musa dan bercerita:
            “Allah telah meralat perintahnya menjadi lima kali dalam sehari”, kata Muhammad.
            “Itu masih memberatkan. Kembalilah lagi pada Allah. Mintalah keringanan dari-Nya, karena umatmu tidak akan mampu melakukan hal itu”, saran Musa kepada Muhammad.
            Nabi pun lalu bolak-balik antara Musa dan Allah Swt agar dikurangi lagi lima demi lima bilangan rakaat. Sampai-sampai Allah menegur Nabi.
            “Hei, Muhammad!”.
            “Baiklah, Tuhan. Aku penuhi panggilanmu dengan segala keagungan-Mu”, sahut Nabi.
            “Ketahuilah! Lima kali salat tersebut dilakukan tiap sehari semalam. Tiap salat terdiri dari sepuluh rakaat, sehingga menjadi lima rakaat. Perintah-Ku ini tidak akan berubah dan ketentuan-Ku tidak akan dihapus. Siapapun yang ingin berbuat baik namun tidak jadi melakukannya akan tetap dicatat sebagai satu kebaikan. Sebaliknya jika ia jadi melakukannya akan dicatat sebagai sepuluh kebaikan. Termasuk siapa saja yang ingin berbuat jelek dan tidak jadi melakukannya, maka tidak akan dicatat sama sekali. Namun jika ia sampai melakukannya, maka akan dicatat satu keburukan”, firman Allah kemudian.
            Tiba-tiba langit mendung berubah terang. Nabi pun turun kembali menemui Musa dan menceritakan apa yang baru saja dialaminya.
            “Kembalilah pada Allah untuk memohon keringanan dari-Nya lagi. Sungguh umatmu masih tidak akan mampu melakukannya”, saran Musa lagi setelah mendengarkan cerita Muhammad.
            “Aku sudah bolak-balik menghadap kepada Allah hingga aku merasa malu kepada-Nya. Sekarang aku rela dan pasrah saja”, ungkap Nabi.
            “Hai Musa! Ketahuilah bahwa Aku telah meringankan kewajiban hamba-hamba-Ku”, seru Allah tiba-tiba.
            “Sujudlah kamu kepada Allah. Karena hanya Dia-lah yang kuasa menyuruh malaikat pelindung untuk meneguhkan hatimu”, kata Musa kepada Muhammad mendukung.
            Dalam suatu riwayat, dikatakan kepada Muhammad dengan redaksi lain: “Perintahkan umatmu untuk mencari kekuatan”.
            Nabi khawatir dan berkata:
            “Aku mendatangi penghuni langit dengan harapan mereka mau menyambutku dengan gembira namun mereka malah menertawakanku. [HAL. 26] Hanya ada sesosok makhluk yang aku sapa salam dan dia balas menyambutku. Dia juga mendoakanku dan tidak pula menertawakanku”, akunya.
            “Dialah sang malaikat penjaga neraka. Dia tidak pernah tertawa sejak diciptakan. Sehingga maklum kalaupun ada makhluk selainnya yang menertawakanmu”, terang Jibril.
            Ketika Nabi turun ke langit dunia, beliau melihat sesuatu di bawahnya. Ternyata itu adalah kabut, asap, dan suara-suara yang menakutkan. Karena penasaran, dia pun menanyakannya pada Jibril.
            “Apa itu, hai Jibril?”, tanyanya.
            “Mereka adalah para syetan yang sedang terbang melayang-layang di sekitar mata anak keturunan Adam yang tidak mau merenungkan ciptaan yang ada di langit dan bumi. Agar mereka melihat keagungan makhluk Allah”, jawab Jibril.
            Selanjutnya Nabi menunggangi Buraq lalu melesat terbang. Di suatu tempat, beliau melihat unta milik Bani Quraisy. Di sana ada seekor unta membawa dua buah karung goni. Karung berwarna hitam dan karung berwarna putih. Pada saat beliau mendekati unta itu tiba-tiba ia terkejut dan berlari berputar-putar. Beliau berhasil mengekangnya lalu unta itu menjinak.
            Selidik punya selidik, Bani Quraisy telah menelantarkan unta mereka sendiri. Namun orang lain yang menemukannya, dialah nabi Muhammad. Nabi mengucapkan salam kepada mereka.
            “Hai, ini suara Muhammad”, kata beberapa orang diantara mereka.
            Nabi bertemu para sahabat di Mekah ketika menjelang subuh. Pada saat sudah masuk subuh, beliau memutuskan dan menduga orang-orang akan merasa dibohongi olehnya. Nabi kembali tertunduk sedih. Abu Jahal, sang musuh Allah, menghampiri Nabi. Dia duduk mendekat dan bicara dengan nada mengejek.
            “Hei, apa ada masalah?”, tanyanya kepada Nabi.
            “Ya”, jawab Nabi.
            “Apa itu?”, tanya Abu Jahal penasaran.
            “Semalam aku melakukan perjalanan isra”, jawab beliau.
            “Kemanakah?”, selidik Abu Jahal.
            “Ke Baitul Muqaddas”, jawab Nabi.
Hah?! Lalu dalam sekejap kamu sudah ada di tengah-tengah kami, begitu?”, tanyanya lagi tidak percaya.
            “Ya, memang begitu adanya”, jawab Nabi tenang.
            Beliau tidak tahu kalau Abu Jahal tidak mempercayai berita tersebut karena khawatir dibohongi oleh Nabi dengan cerita tersebut sehingga akan mengajak orang-orang untuk mengikutinya.
            “Apakah kamu merencanakan untuk mendakwahi orang-orang dan menceritakan kepada mereka dengan berita yang telah kamu ceritakan kepadaku?”  tanya Abu Jahal cemas.
            “Ya”, jawab Nabi
            “Hai keluarga Ka’ab bin Luaiy! Kemarilah”,seru Abu Jahal. Kerumunan orang-orang pun segera bergegas mendatanginya dan duduk mendekati Nabi dan Abu Jahal .
            “Ceritakanlah kepada kaummu tentang berita yang telah kamu ceritakan kepadaku “, tantangnya kepada Nabi.
            “Semalam aku telah melakukan perjalanan isra’”, ungkap Nabi.
            “Kemana?”, tanya mereka.
            “Ke Baitul Maqdis”, jawab Nabi.
            “Tiba-tiba engkau sampai diantara belakang punggung-punggung kami?”, tanya mereka meyakinkan.
            “Ya”, jawab Nabi.
            Seketika orang-orang ada yang bertepuk tangan, ada yang meletakkan tangannya diatas kepala karena kagum, mereka memahami, dan mengagungkan berita Nabi tersebut.
            Melihat hal demikian, Muth’im bin Adiy berkata membantah:
            “Semua tentangmu yang dulu saja .. [HAL 27]…. itu penuh tipuan apalagi sekarang. Aku bersaksi engkau hanyalah seorang pembual. Kami berangkat ke Baitul Maqdis dengan mengendarai unta yang jalannya lamban dan membutuhkan waktu selama satu bulan. Malah engkau kira bahwa engkau datang kesana hanya membutuhkan waktu satu malam. Demi Latta dan ‘Uzza, aku tidak mempercayaimu”.
            “Hai Muth’im, sungguh buruk perkataanmu kepada putra saudaramu sendiri. Kamu telah menerimanya namun engkau mengingkarinya. Aku bersaksi bahwa Muhammad adalah orang yang jujur”, tegas Abu Bakar.
            “Hai Muhammad, gambarkan Baitul Maqdis kepada kami! Bagaimana bangunannya? Bagaimana keadaannya? Seberapa dekat dari gunung? Lalu siapakah orang yang pernah kesana?”, tanya mereka meyakinkan.
            Nabi lekas menggambarkan kepada mereka bangunannya seperti ini, keadaannya seperti ini, jaraknya dari gunung seperti ini. Beliau terus menggambarkannya kepada mereka sampai benar-benar jelas gambaran tersebut.
            Seketika Nabi merasa lelah sekali tidak seperti biasanya. Beliau dituntun ke Masjid. Nabi memandangi sekitar masjid sampai dibaringkan disana dan tidak lagi dirumah ‘Uqail atau ‘Aqqal bin Abi Thalib.
            “Ada berapa jumlah pintu masjid?”, tanya orang-orang pada Nabi tiba-tiba.
            Nabi lekas mengamati dan menghitung satu persatu pintu lalu memberitahukannya kepada mereka.
            “Anda benar. Anda benar. Aku bersaksi bahwa engkaulah sang utusan Allah”, kata Abu Bakar (meyakini).
            “Demi Allah gambaran tadi juga benar”, kata Bani Quraisy. Seraya mereka menanyakan pada Abu Bakar: “Apakah engkau membenarkan bahwa Nabi pergi ke Baitul Maqdis dalam semalam dan kembali sebelum masuk subuh?”.
            “Ya. Aku mempercayai Isra’ Mi’raj yang dialami Nabi bahkan sejauh apapun tempatnya. Aku membenarkan berita langit entah itu sejak terbitnya fajar sampai teriknya matahari maupun sejak terbitnya matahari sampai terbenamnya matahari kembali”, tegas Abu Bakar. Karena itulah Abu Bakar disebut Ash-Shiddiq.
            “Hai Muhammad, beritahukanlah kepada kami tentang unta liar kami?”, tanya mereka.
            “Aku telah menghampiri unta milik suatu kaum disebuah desa sekitar 40 mil dari kota. Mereka kehilangan unta betinanya dan berangkat mencarinya sampai pencarian berakhir tidak seorang pun yang menemukannya”, ungkap Nabi. “Tiba-tiba ada semangkuk air dan aku meminumnya. Setelah itu aku menemukan unta mereka disuatu tempat ini dan ini. Disana juga ada seekor unta berwarna merah sedang membawa sekarung berwarna hitam dan sekarung berwarna putih. Aku mendekati unta itu namun ia malah berputar-putar. Aku pun mengekangnya dan ia semakin menjinak. Selesailah sudah aku tangani tanpa pemiliknya. Di tanah Tan’Im unta belang yang membawa dua karung hitam itu diserahkan. Inilah yang seharusnya kalian syukuri”, tambah beliau.
            “Lalu kapan engkau tiba?”, tanya mereka.
            “Pada hari rabu, karena pada saat itulah unta yang ditunggu-tunggu itu dielu-elukan oleh Bani Quraisy”, jawab Nabi.
            Sebelumnya siang itu bergeser, sedangkan untanya belum juga datang. Nabi SAW pun berdoa … [HAL 28]… seketika Allah mengundurkan waktu siang beberapa saat. Matahari pun menghitung waktu hingga untanya muncul dan mereka menyambutnya.
            “Apakah unta kamu hilang?”, tanya Bani Tan’im.
            “Ya”, jawab Bani Fulan.
            “Bertanyalah kepada unta-unta yang lain!”, kata Nabi.
            “Apakah unta yang merah kalian hilang?”, tanya Bani Tan’im.
            “Ya”, jawab mereka.
            “Apakah kalian mempunyai satu mangkok air?”
            “Demi Allah aku meletakkannya dan kami sama sekali tidak meminumnya dan tidak menumpahkannya ke tanah malah kami melemparkannya dengan sihir”, jawab seorang laki-laki.
            “Muhammad itu benar. Sehingga Allah SWT menurunkannya dan tidak menjadikan kami pengetahuan yang kami ajarkan kepada kamu kecuali hanya menjadi fitnah bagi manusia”, kata Bani Tan’im.
            [Dengan mengucap segala puji bagi Allah dan dengan segala pertolonganNya cerita ini selesai].
            Semoga shalawat Allah tetap tercurahkan kepada Nabi Muhammad serta kepada para keluarga sahabat dengan segala keselamatan yang banyak. Walhamdulillahi Rabbil ‘Alamin..

Kisah Isra' Mi'raj Karya Syeikh Najmuddin al Ghaitiy (Terj. Part. 1)

“QISHASH   L-MI’RAJ OLEH AL-‘ALLAMAH NAJMUDDIN AL-GHAYTHIY


Diterjemahkan oleh.:

Cholid Ma'arif


 





KISAH ISRA’ MI’RAJ

…[HAL. 2]….
“Dengan menyebut Nama Allah Yang Maha Pengasih Lagi Maha Penyayang”.
            Pada saat Nabi Muhammad Saw sedang tidur dengan posisi miring bersama dua orang laki-laki (yaitu paman dan keponakan Nabi) di kamar dalam rumahnya, tiba-tiba malaikat Jibril dan Mikail datang ...[HAL. 3]… diikuti para malaikat lain. Lalu mereka membawa Nabi menuju ke (sumur ) Zamzam. Di sana para malaikat membaringkan Nabi lalu Jibril mengurusnya.
            Dalam sebuah riwayat (lain), Jibril  (datang dengan) membuka atap rumahku (Muhammad) lalu turun dan membedah lubang lehernya sampai perut yang paling bawah. Lalu  Jibril berkata kepada Mikail:
“Berikan aku beberapa baskom air zamzam …[HAL. 4]… untuk mensucikan hati Nabi Muhammad dan melapangkan dadanya”, kata Jibril.
            Jibril pun mengeluarkan hati Muhammad dan membasuhnya tiga kali lalu membuang penyakit hatinya yang ada. Namun kemudian Mikail (sempat) meragukan Jibril untuk membawakan kepadanya tiga baskom air zamzam. Sehingga ia dating dengan membawa baskom yang terbuat dari emas berisikan hikmah dan iman. Lalu Jibril mengkosongkan hati Nabi …[HAL. 5]… dan diisi dengan kebijaksanaan, ilmu pengetahuan, keyakinan, dan keislaman. Setelah itu ditutup kembali hatinya dan diberikan tanda kenabian diantara kedua pundak beliau.
            Setelah itu seekor Buraq berpelana dan bertali kekang menghampiri beliau. Buroq adalah seekor hewan tunggangan berwarna putih, tingginya melebihi keledai, dan tidak pula sependek kuda …[HAL. 6]… ia mendaratkan kedua kakinya dan disusul kaki belakangnya sambil mengkibas-kibaskan kedua telinganya.
            Ketika telah tiba di sebuah gunung, Buroq menjejakkan kedua kakinya. Seketika ia mendaratkan kedua tangannya. Ia memiliki kedua sayap di kedua paha kakinya. Ia siap melesat dengan kedua sayap tersebut. Namun Buroq merasa terlalu berat membawa Nabi di atasnya. Jibril pun membujuk Buroq.
            “Wahai Buroq, apakah kamu tidak malu? Demi Allah seseorang yang menunggangimu adalah makhluk yang paling mulia”, kata Jibril.
            Sontak Buroq merasa malu sampai mengeluarkan keringat lalu diam, hingga Nabi menaikinya. Dahulu para nabi telah mengendarai Buroq ini. Menurut Sa’ad Ibnu Musayyab dan lainnya, Buroq merupakan kendaraan Nabi Ibrahim yang dikendarai menuju Baitul Haram. Melesatlah Buroq membawa Nabi, sedangkan Jibril …[HAL. 7]… menjaga di samping kanan beliau dan Mikail di samping kirinya.
            Menurut Ibnu Sa’ad, yang membantu mengendalikan Buroq adalah Jibril, sedangkan Mikail yang memegang tali kekangnya. Mereka kemudian berangkat hingga tiba di suatu dataran yang ditumbuhi pohon kurma. Lalu Jibril menyuruh Nabi.
            “Turun dan solatlah disini!”, kata Jibril.
            Nabi pun melakukannya setelah itu naik kembali ke atas Buroq.
            “Apakah Anda tahu tempat solat tadi?”, tanya Jibril.
            “Tidak”, jawab Nabi.
            “Anda tadi solat di Thayyibah, tempat kaum Muhajirin berhijrah”, jelas Jibril.
            Buroq melesat lagi dengan cepat membawa Nabi. Tidak lama kemudian ia mendaratkan kaki depannya lalu kaki belakangnya. Jibril berkata lagi:
            “Turun dan solatlah di sini!”, kata Jibril.
            Nabi pun mengerjakannya kemudian naik kembali ke atas Buroq.
            “Apakah Anda tahu tempat salat tadi?”, tanya Jibril lagi.
            “Tidak”, jawab Nabi singkat.
            “Anda baru saja salat di Madin, dimana pohon nabi Isa tumbuh”, jelas Jibril kemudian.
            Selanjutnya Buroq melesat memboncengi Nabi. Sejenak kemudian Jibril kembali meminta Nabi melakukan solat di tempat yang telah ditunjuk. Nabi pun melakukannya sebelum naik lagi ke punggung Buroq.
            “Apakah Anda tahu tempat Anda salat tadi”, Tanya Jibril.
            “Tidak”, jawab Nabi
            “Anda telah salat di bukit Tursina, tempat Allah pernah berbicara kepada nabi Musa”, jelas Jibril.
            Selanjutnya Nabi sampailah pada suatu tempat dan nampak di hadapan beliau sebuah istana Syam. Di sana Jibril meminta Nabi turun dan melakukan salat lagi. Beliau pun mengerjakannya lalu naik kembali ke atas Buroq. Jibril menanyai Nabi kembali:
            “Apakah Anda tahu tempat Anda salat tadi?”.
            “Tidak”, jawab Nabi.
            “Anda tadi solat di Betlehem, tempat Siti Maryam melahirkan Nabi Isa”, terang Jibril.
            Pada saat Nabi melakukan perjalanan dengan Buroq, tiba-tiba ia melihat Jin Ifrit mengejarnya sambil membawa api obor yang menjilat-jilat tiap kali beliau menengoknya. Mengetahui hal itu, Jibril pun berkata kepada Nabi:
            “Apakah Anda ingin tahu doa untuk memadamkan nyala api itu?”.
            “Ya”, jawab Rasulullah Saw.
            Lalu Jibril berkata:
            “Ucapkanlah a’uudzu bi wajhillahi l-kariim, wa bi kalimaatillahi l-tammaati l-latiy laa yujaawizuuhunna birrun wa laa faajirun, min syaarri maa yanzilu min l-samaa;i wa min syarri maa dzara;a fi l-ardhi wa min maa yakhruju minhaa, wa min fitani l-layli wa l-nahaari, wa min thawaariqi l-layli illa thaariqan yathruqu bi khairin, Ya Rahmaan (artinya: ‘Aku berlindung hanya kepada Wajah Allah yang Maha Mulia dan dengan kalimah Allah yang Maha Sempurna, tidak ada kebaikan maupun keburukan yang dapat mengunggulinya, baik keburukan yang turun dari langit maupun yang keluar dari dalamnya, juga dari keburukan yang keluar dari bumi berupa fitnah di malam hari maupun fitnah di siang hari, serta jalan-jalan di malam hari maupun siang hari, kecuali jalan yang dilalui dengan kebaikan, wahai Dzat Yang Maha Pengasih’. Selesai dibacakan doa, padamlah api tersebut.
            Selanjutnya mereka melanjutkan perjalanan hingga tiba …[HAL. 8]… pada suatu kaum yang sedang menanam gandum di satu hari dan memanennya di hari yang lain. Tiap kali mereka selesai memanen, kembali memanen lagi seperti semula dan seterusnya berulang-ulang seperti itu. Melihat peristiwa itu, Nabi bertanya:
            “Wahai Jibril, apa maksudnya ini”.
            “Mereka adalah orang-orang yang tekun berjuang di jalan Allah Swt, sehingga Dia melipatgandakan pahala mereka sampai 700 kali lipat, sedangkan Allah tidak akan memandang harta mereka karena Dia-lah Dzat Yang Maha Berbeda dengan makhluk-Nya”, jawab Jibril.
            Berikutnya Nabi mencium bau yang wangi lalu menanyakannya pada Jibril:
            “Bau apakah ini?”
            “Inilah bau wangi Siti Masyitoh, seorang budak Fir’aun dan putrid-putrinya”, jawab Jibril.
            Pada saat Masyitoh sedang menyisir rambut putrid Fir’aun, tiba-tiba sisirnya jatuh dan spontan Masyitoh berucap:
            “Demi menyebut Asma Allah, celakalah Fir’aun!”.
            Mendengar hal itu, putri Fir’aun bertanya:
            “Apakah kamu bertuhan kepada selain ayahku?”.
            “Ya”, jawab Masyitoh.
            “Tidakkah kamu takut akan saya laporkan kepada ayahku?”, ancamnya.
            “Silahkan saja”, jawab Masyitoh tenang.
            Seketika putrid Fir’aun melaporkan ihwal tersebut kepada ayahnya. Akhirnya Fir’aun pun memanggil Masyitoh dan menginterogasinya:
            “Apakah kamu bertuhan kepada selain aku?”.
            “Benar, tuhanku dan tuhanmu adalah Allah”, jawab Masyitoh.
            Karena Masyitoh mempunyai dua orang anak dan seorang suami, Fir’aun juga memanggil dan menyuruh mereka agar mau kembali dari agamanya. Namun keduanya tetap tidak bersedia, Fir’aun pun mengancam:
            “Sungguh aku akan membunuh kalian berdua!”.
            “Sebaiknya jika kamu sudah membunuh kami nanti, tempatkanlah kami dalam satu tempat!”, pinta Masyitoh.
            “Itu sudah menjadi hakku terhadap kamu”, jawab Fir’aun ketus.
            Lalu Fir’aun memerintahkan pasukannya agar menyiapkan sebuah tungku raksasa yang terbuat dari perak dipanaskan di atas bara api. Kemudian menyuruh Masyitoh dan keluarganya untuk mencebur ke dalamnya. Mereka pun menceburkan diri satu persatu hingga tiba giliran anaknya yang paling kecil dan masih menyusui. Tiba-tiba ia bisa bicara meyakinkan ibunya:
            “Wahai ibu, mari kita menceburkan diri dan usah menunda lagi karena kita memang berada di jalan yang benar”.
            Seketika menceburlah Masyitoh dan keluarganya.
            Menurut suatu riwayat, dalam liang tersebut tersimpan empat keluarga jenazah. Mereka adalah keluarga Masyitoh, nabi Yusuf, sahabat Juraih, dan Isa bin Maryam. [HAL. 9].
            [HAL.10] Berikutnya Nabi tiba pada sekelompok orang yang sedang berusaha meremukkan kepala mereka sendiri. Tiap kali kepalanya telah remuk, seketika kembali menjadi utuh seperti semula. Hal itu terus terjadi tanpa henti. Nabi pun bertanya pada Jibril:
            “Siapakah mereka?”
            “Merekalah orang-orang yang berat kepala mengerjakan salat wajib”, terang Jibril.
            Berikutnya lagi Nabi menjumpai sekelompok orang yang menutupi kemaluan depan dan belakang mereka. Sehingga mereka hanya bisa bergeletakan layaknya unta dan kambing yang memakan ranting-ranting pohon kering dan kayu zaqqum, …[HAL.11]… sedangkan neraka dan kayu bakarnya membara. Melihat ihwal tersebut, Nabi bertanya pada Jibril:
            “Siapakah mereka?”.
            “Mereka adalah orang-orang yang tidak mensedekahkan hartanya, oleh karena itulah Allah menganiaya mereka”, jelas Jibril.
            Berikutnya Nabi menjumpai sekelompok orang yang memiliki daging segar di dalam panci dan daging lain yang anyir dan busuk. Namun mereka memilih memakan daging yang anyir lagi busuk dan malah mengabaikan daging yang segar dan bersih. Nabi pun bertanya pada Jibril:
            “Apa maksudnya ini?”.
            “inilah gambaran umatmu nanti jelas sudah beristri secara halal dan sah namun memilih mendatangi wanita border dan menidurinya sampai pagi. Sebaliknya, istrinya yang sah malah menceraikannya dan tidur dengan laki-laki yang bukan pasangannya sampai pagi”, terang Jibril.
            Berikutnya Nabi juga menjumpai setumpuk kayu di tengah jalan yang jika seseorang melewatinya, sobeklah pakaiannya karena tersangkut. Nabi menanyakannya pada Jibril:
            “Apa maksudnya ini?”
            “Ini adalah perumpamaan umatmu nanti yang suka nongkrong di jalan dan mengganggu lalu lintas jalan”, jelasnya. Lantas Jibril dan Nabi pun menegur mereka:
            “Janganlah kalian duduk-duduk di jalan manapun!”.
            Mereka malah mengancam dan semakin berpaling dari jalan Allah.
            Berikutnya Nabi mendatangi seorang laki-laki yang mengumpulkan setumpuk kayu bakar namun tidak mampu membawanya karena dia terus menambahi beban bawaannya itu. Melihat ihwal tersebut, beliau bertanya:
            “Hai Jibril, apa maksudnya ini?”.
            “Inilah gambaran umatmu nanti jika diberi kepercayaan publik namun tidak mampu melaksanakannya bahkan ingin terus menambahi bebannya sendiri”, terang Jibril.
            Berikutnya Nabi menjumpai sekelompok orang yang sedang memotong lidah dan bibir mereka sendiri dengan gunting besi. Tiap kali terpotong seketika kembali menjadi utuh seperti semula dan begitu seterusnya. Nabi menanyakan ihwal tersebut pada Jibril:
            “Hai Jibril, siapakah mereka?”.
            “Merekalah orang-orang yang bicara penuh fitnah, yaitu umatmu yang suka mengatakan apa yang dia sendiri tidak pernah melakukannya”, jawab Jibril.
            Berikutnya Nabi juga menjumpai orang-orang yang berkuku tembaga sedang mencakar wajah dan dada mereka sendiri. Nabi pun menanyakannya lagi pada Jibril:
            “Siapakah mereka?”
            “Mereka adalah orang-orang yang memakan daging manusia karena dengan laba hutang”, jawab Jibril.
            Berikutnya Nabi tiba di sebuah gua kecil, tempat dimana seekor sapi jantan yang besar keluar. Tiba-tiba sapi itu ingin masuk kembali kedalam gua tetapi tidak bisa. Nabi pun menanyakannya pada Jibril:
            “Inilah perumpamaan umatmu yang banyak bicara bohong tapi kemudian menyesalinya dan tidak bisa meralat perkataannya tadi”, jelas Jibril.
            Berikutnya, ketika Nabi sedang melanjutkan perjalanan tiba-tiba ada orang yang memanggilnya dari samping kanan beliau:
            “Hai Muhammad, tengoklah kesini aku membutuhkanmu”.
            Namun beliau tidak menggubrisnya dan bertanya kepada Jibril:
            “Apa artinya ini?”.
            “Orang yang memanggil tadi adalah seorang Yahudi. Jika Anda tadi menanggapinya …[HAL.12]… maka umatmu akan menjadi Yahudi”, jawab Jibril.
            Berikutnya lagi ketika Nabi melanjutkan perjalanan tiba-tiba ada orang yang memanggilnya dari arah kiri:
            “Hai Muhammad, tengoklah kesini aku membutuhkanmu”.
            Namun beliau tidak menggubrisnya balik menanyakannya kepada Jibril:
            “Apa artinya ini?”.
            “Orang yang memanggilmu tadi ialah seorang Nasrani. Kalaupun Anda tadi menanggapinya maka umatmu akan menjadi Nasrani”, jawab Jibril.
            Ketika Nabi sedang melanjutkan perjalanan lagi tiba-tiba ada seorang perempuan dengan kedua lengan terbuka dan memakai berbagai perhiasan yang diciptakan oleh Allah Swt di kepalanya.
            “Hai Muhammad, tengoklah kemari aku membutukanmu”, sapa perempuan itu menggoda Nabi.
            Lagi-lagi beliau tidak menoleh dan bertanya kepada Jibril:
            “Siapakah dia?”.
            “Itulah gambaran dunia. Kalaupun Anda tadi meresponnya bisa saja umatmu akan memilih bergelimpang dunia daripada akhirat”, jelas Jibril.
            Lalu Nabi melanjutkan perjalanan sebelum tiba-tiba ada ada orang tua di pinggir jalan memanggilnya:
            “Hai Muhammad, tolong kemarilah”.
            “Tetaplah berjalan kedepan, hai Muhammad”, cegah Jibril seketika.
            “Siapakah dia?”, Tanya Nabi.
            “Dialah iblis sang musuh Allah yang menginginkan Anda berpihak kepadanya”, jelas Jibril singkat.
            Nabi meneruskan perjalanan tiba-tiba beliau dihadang dengan seorang nenek di pinggir jalan yang memanggilnya:
            “Hai Muhammad, tengoklah kemari aku membutuhkanmu”.
            Nabi tetap tidak menoleh lagi dan menanyakannya pada Jibril:
            “Siapakah dia?”
            “Inilah perumpamaan usia dunia yang tersisa layaknya usia orang jompo”, terang Jibril.
            Kembali Nabi melanjutkan perjalanan hingga sampailah di kota Baitul Maqdis. Beliau masuk melalui pintu Yamani sebelum akhirnya turun dari Buraq dan mengikatkannya pada sebuah pintu masjid dengan seutas tali yang dulu pernah dipakai para nabi sebelumnya.
            Dalam suatu riwayat, Jibril menghampiri sebuah bejana terbuat dari porselin, lalu memasukkan jari jemarinya ke dalamnya dan mengikatkan Buraq pada bejana tersebut dengan kuat. Kemudian beliau masuk masjid melalui sebuah pintu tempat bertemunya bayang sinar matahari dan bulan.
            Di dalam masjid, Nabi dan Jibril melakukan salat masing-masing dua rakaat. Tidak berselang lama kemudian berkumpullah banyak orang. Nabi mengenalkan cara berdiri, ruku’, dan sujud kepada para nabi. Lalu sang muadzin mengumandangkan adzan dan iqamat. Mereka pun berdiri membentuk shaf-shaf sambil menunggu siapa yang akan mengimami mereka. Seketika Jibril memohon kesediaan Nabi Muhammad Saw. Beliau pun maju dan salat berjamaah bersama para nabi.
            Diriwayatkan dari Ka’ab bahwa Jibril meminta para malaikat turun dari langit. [HAL.13]… Kemudian Allah memerintahkan Jibril untuk mengumpulkan para rasul dan nabi. Segera Nabi Muhammad Saw melaksanakan salat bersama para malaikat dan rasul. Setelah bubar, Jibril menanyai Nabi:
            “Tidak”, jawab Nabi
            “Allah telah mengutus para nabi, mereka pun memanjatkan puji kepada-Nya dengan pujian yang indah”, terang Jibril.
            “Jika mereka memuji kepada Allah, aku pun juga begitu”, sahut Nabi Muhammad Saw. Lalu beliau menyatakan ungkapan hatinya:
            “Segala puji bagi Allah Dzat yang telah mengutus aku menjadi rasul rahmat bagi semesta alam. Juga bagi segenap umat manusia untuk menyampaikan berita gembira maupun peringatan. Dia menurunkan Alqur’an kepadaku. Di dalamnya terkandung penjelasan tentang segala sesuatu dan menjadikan umatku sebagai umat terbaik yang membebaskan manus ia serta menjadikan mereka tengah-tengah. Dia menjadikan umatku sebagai golongan yang pertama dan yang terakhir. Dia melapangkan dadaku, meringankan bebanku, dan mengangkat namaku, serta menjadikan aku sebagai pembuka syafaat dan penutup para nabi”.
            “Karena itulah Allah melebihkanmu, wahai Muhammad”, seru Ibrahim Saw seketika.
            Pengalaman selanjutnya tiba-tiba Nabi merasakan dahaga yang sangat dan belum pernah dirasakan sebelumnya. Segera Jibril menghampiri Nabi dengan membawakan segelas khamar dan segelas susu, namun beliau hanya memilih susu.
            “Anda telah memilih fitrah, kalaupun Anda tadi meminum khamar maka umatmu akan celaka dan sedikit pengikutmu”, kata Jibril setelah tahu pilihan Nabi.
            [HAL.14] Dalam suatu riwayat disebutkan bahwa terdapat tiga buah gelas. Gelas yang ketiganya berisi air.
            “Andaikan tadi engkau meminum air saja umatmu mungkin akan tenggelam”, kata Jibril kepada Nabi Muhammad Saw.
            Dalam suatu riwayat lain diceritakan, salah satu dari ketiga gelas yang ditawarkan kepada Nabi adalah berisi madu yang serupa dengan air yang menenggelamkan.
            Di perjalanan berikutnya Nabi melihat sesosok makhluk dengan mata yang sangat besar dan hitam pekat ada di sisi kiri beliau. Nabi mengucapkan salam dan dia membalasnya. Nabi pun bertanya lalu mereka bercerita perihal kejadian yang menimpa mata mereka.
            Tibalah Nabi melakukan mi’raj dimana para arwah keturunan nabi Adam naik. Suatu tempat paling indah yang pernah diciptakan. Memiliki tangga yang terbuat dari emas dan perak surge Firdaus …[HAL.15]… tersusun rapi dengan mutiara di sisi kanan kirinya yang dijaga malaikat.
            Setelah itu Nabi dan Jibril naik sampai ke ujung gerbang langit dunia. Beliau diberitahu bahwa itulah pintu Hafadzah yang dijaga oleh malaikat. Nabi juga dipertemukan dengan malaikat Ismail, penjaga langit dunia. Bertempat di atas angin, sama sekali tidak pernah naik ke langit dan tidak pula turun ke bum i, kecuali pada hari meninggalnya Nabi Saw. Dia menguasai 70.000 malaikat. Tiap malaikat membawahi 70.000 bala tentara malaikat.
            Seketika Jibril minta dibukakan pintu langit namun ditanya malaikat penjaga gerbang terlebih dahulu:
            “Siapakah ini?”.
            “Aku Jibril”, jawabnya.
            “Siapa yang bersamamu?”, tanya penjaga.
            “Dialah Muhammad”, jawab Jibril. “Allah telah menjadikannya seorang Rasul”, tambahnya.
            Dalam riwayat lain diceritakan, penjaga bertanya lagi menegaskan:
            “Allah telah mengutusnya!?”.
            “Ya”, jawab Jibril.
            “Selamat datang wahai Nabi. Semoga Allah memberikan umur panjang kepada para Ahli bait, baik kepada saudara maupun para khalifah. Sebaik-baik saudara dan khalifah sama baiknya dengan seorang yang telah mendakwahinya”, sambut malaikat penjaga setelah benar-benar yakin bahwa dialah sang Utusan Allah. Lalu dibukakanlah pintu langit untuk Jibril dan Nabi.
            Pada saat …[HAL.16]… keduanya tiba, seketika di sana sudah ada Nabi Adam As. Dialah bapak manusia karena begitulah wujud pertama kali manusia diciptakan oleh Allah. Nabi ditunjukkan pada arwah para nabi dan keturunannya yang beriman. Jibril berkata kepada ruh baik:
            “Tinggallah kalian di surga ‘Illiyyin”.
            Nabi  juga ditunjukkan dengan arwah orang kafir dan keturunannya yang kufur. Jibril pun berkata kepada ruh jahat:
            “Tinggallah kalian di neraka Sijjin!”.
            Tiba-tiba dari samping kanan Nabi melihat seorang perempuan dan sebuah pintu yang mengeluarkan bau yang wangi. Sedangkan dari samping kiri Nabi melihat seorang perempuan dan sebuah pintu yang mengeluarkan bau yang busuk dan tengik. Sampai-sampai ketika Nabi menoleh ke kanan beliau tertawa senang. Namun ketika menoleh kiri beliau nampak bersedih.
            Nabi Adam lalu mengucapkan salam kepada Nabi Saw, beliau pun membalasnya.
            “Selamat datang wahai putra yang  sempurna dan sang nabi penutup”, sambut Adam kepada beliau.
            “Siapakah dia?”, tanya Nabi pada ruh Jibril.
            “Inilah bapakmu, sang nabi Adam, dan perempuan ini adalah hembusan ruh tulang rusuknya’, jelas JIbril.
            “Golongan kanan adalah penghuni surga, dan golongan kiri adalah penghuni neraka. Sehingga ketika Nabi menengok ke kanan, beliau tertawa dan bahagia. Sedangkan ketika ganti menengok ke kiri beliau menangis dan sedih.
            Adapun pintu yang ada di sisi kanan Nabi merupakan pintu surga. Sehingga siapapun pengikutnya yang memasuki pintu itu pastilah akan tertawa dan senang. Sedangkan pintu di sebelah kiri beliau adalah pintu neraka Jahannam, sehingga siapapun pengikut Nabi yang memasukinya pastilah akan menangis dan sedih.
            Sebentar kemudian Nabi melanjutkan perjalanan hingga menjumpai orang yang suka makan riba, harta anak yatim, suka berzina, dan lain sebagainya dalam kondisi yang memprihatinkan dikarenakan perbuatannya pada masa lalu, Muhammad pun turut prihatin.
            Selanjutnya Nabi naik menuju ke langit kedua. Jibril minta dibukakan pintu langit dan ditanya:
            “Siapakah ini?”.
            “Saya Jibril?”, jawabnya.
            “Siapakah yang bersamamu?”, ditanya lagi.
            “Muhammad”, jawab Jibril.
            “Apakah dia diutus Allah?”, ditanyanya.
            “Ya, benar”, jawab Jibril.
            “Selamat datang hai Muhammad. Semoga Allah memberikan umur panjang kepada para Ahli Bait, saudara dan para khalifah. Sebaik-baik saudara dan khalifah begitu pula orang yang mendatangi mereka sendiri”, sambut malaikat penjaga.
            Lalu dibukakanlah pintu langit untuk Jibril dan Nabi. Pada saat keduanya sampai …[HAL.17]… seketika beliau bertemu dengan dua putra keponakan, yaitu Isa bin Maryam dan Yahya bin Zakariya. Salah seorang diantara mereka hamper mirip dengan sahabat Nabi dalam hal pakaian dan rambut. Mereka berdua membawa seorang pengikut masing-masing.
            Isa bertubuh pendek semampai, berkulit merah keputih-putihan, berambut kucir seperti bulu merpati yang menyembul. Mirip dengan Urwah bin Mas’ud ats Tsaqafiy.
            Nabi Muhammad Saw mengucapkan salam kepada mereka berdua lalu mereka membalasnya.
            “Selamat datang wahai saudara mudaku dan sang nabi penutup”, sambut mereka.
            Mereka pun berdoa demi kebaikan Nabi Saw.
            Selanjutnya Nabi naik menuju langit ketiga. Jibril minta dibukakan pintu langit, namun ditanya terlebih dahulu.                                        
            “Siapakah ini?”.
            “Aku Jibril’, jawab Jibril.
            “Siapakah yang bersamamu?”, ditanya.
             “Dialah Muhammad?”, jawabnya.
            “Apakah dia diutus oleh Allah?”, tanya penjaga.
            “Iya, benar”, jawab Jibril.
            “Selamat datang wahai Nabi. Semoga Allah menganugrahi umur panjang kepada para Ahli Bait, saudara, dan para khalifah. Sungguh beruntung para khalifah dan saudara yang didatangi nabi”, sambut malaikat penjaga.