Kamis, 07 Oktober 2010

Kisah Isra' Mi'raj Karya Syeikh Najmuddin al Ghaitiy (Terj. Part. 1)

“QISHASH   L-MI’RAJ OLEH AL-‘ALLAMAH NAJMUDDIN AL-GHAYTHIY


Diterjemahkan oleh.:

Cholid Ma'arif


 





KISAH ISRA’ MI’RAJ

…[HAL. 2]….
“Dengan menyebut Nama Allah Yang Maha Pengasih Lagi Maha Penyayang”.
            Pada saat Nabi Muhammad Saw sedang tidur dengan posisi miring bersama dua orang laki-laki (yaitu paman dan keponakan Nabi) di kamar dalam rumahnya, tiba-tiba malaikat Jibril dan Mikail datang ...[HAL. 3]… diikuti para malaikat lain. Lalu mereka membawa Nabi menuju ke (sumur ) Zamzam. Di sana para malaikat membaringkan Nabi lalu Jibril mengurusnya.
            Dalam sebuah riwayat (lain), Jibril  (datang dengan) membuka atap rumahku (Muhammad) lalu turun dan membedah lubang lehernya sampai perut yang paling bawah. Lalu  Jibril berkata kepada Mikail:
“Berikan aku beberapa baskom air zamzam …[HAL. 4]… untuk mensucikan hati Nabi Muhammad dan melapangkan dadanya”, kata Jibril.
            Jibril pun mengeluarkan hati Muhammad dan membasuhnya tiga kali lalu membuang penyakit hatinya yang ada. Namun kemudian Mikail (sempat) meragukan Jibril untuk membawakan kepadanya tiga baskom air zamzam. Sehingga ia dating dengan membawa baskom yang terbuat dari emas berisikan hikmah dan iman. Lalu Jibril mengkosongkan hati Nabi …[HAL. 5]… dan diisi dengan kebijaksanaan, ilmu pengetahuan, keyakinan, dan keislaman. Setelah itu ditutup kembali hatinya dan diberikan tanda kenabian diantara kedua pundak beliau.
            Setelah itu seekor Buraq berpelana dan bertali kekang menghampiri beliau. Buroq adalah seekor hewan tunggangan berwarna putih, tingginya melebihi keledai, dan tidak pula sependek kuda …[HAL. 6]… ia mendaratkan kedua kakinya dan disusul kaki belakangnya sambil mengkibas-kibaskan kedua telinganya.
            Ketika telah tiba di sebuah gunung, Buroq menjejakkan kedua kakinya. Seketika ia mendaratkan kedua tangannya. Ia memiliki kedua sayap di kedua paha kakinya. Ia siap melesat dengan kedua sayap tersebut. Namun Buroq merasa terlalu berat membawa Nabi di atasnya. Jibril pun membujuk Buroq.
            “Wahai Buroq, apakah kamu tidak malu? Demi Allah seseorang yang menunggangimu adalah makhluk yang paling mulia”, kata Jibril.
            Sontak Buroq merasa malu sampai mengeluarkan keringat lalu diam, hingga Nabi menaikinya. Dahulu para nabi telah mengendarai Buroq ini. Menurut Sa’ad Ibnu Musayyab dan lainnya, Buroq merupakan kendaraan Nabi Ibrahim yang dikendarai menuju Baitul Haram. Melesatlah Buroq membawa Nabi, sedangkan Jibril …[HAL. 7]… menjaga di samping kanan beliau dan Mikail di samping kirinya.
            Menurut Ibnu Sa’ad, yang membantu mengendalikan Buroq adalah Jibril, sedangkan Mikail yang memegang tali kekangnya. Mereka kemudian berangkat hingga tiba di suatu dataran yang ditumbuhi pohon kurma. Lalu Jibril menyuruh Nabi.
            “Turun dan solatlah disini!”, kata Jibril.
            Nabi pun melakukannya setelah itu naik kembali ke atas Buroq.
            “Apakah Anda tahu tempat solat tadi?”, tanya Jibril.
            “Tidak”, jawab Nabi.
            “Anda tadi solat di Thayyibah, tempat kaum Muhajirin berhijrah”, jelas Jibril.
            Buroq melesat lagi dengan cepat membawa Nabi. Tidak lama kemudian ia mendaratkan kaki depannya lalu kaki belakangnya. Jibril berkata lagi:
            “Turun dan solatlah di sini!”, kata Jibril.
            Nabi pun mengerjakannya kemudian naik kembali ke atas Buroq.
            “Apakah Anda tahu tempat salat tadi?”, tanya Jibril lagi.
            “Tidak”, jawab Nabi singkat.
            “Anda baru saja salat di Madin, dimana pohon nabi Isa tumbuh”, jelas Jibril kemudian.
            Selanjutnya Buroq melesat memboncengi Nabi. Sejenak kemudian Jibril kembali meminta Nabi melakukan solat di tempat yang telah ditunjuk. Nabi pun melakukannya sebelum naik lagi ke punggung Buroq.
            “Apakah Anda tahu tempat Anda salat tadi”, Tanya Jibril.
            “Tidak”, jawab Nabi
            “Anda telah salat di bukit Tursina, tempat Allah pernah berbicara kepada nabi Musa”, jelas Jibril.
            Selanjutnya Nabi sampailah pada suatu tempat dan nampak di hadapan beliau sebuah istana Syam. Di sana Jibril meminta Nabi turun dan melakukan salat lagi. Beliau pun mengerjakannya lalu naik kembali ke atas Buroq. Jibril menanyai Nabi kembali:
            “Apakah Anda tahu tempat Anda salat tadi?”.
            “Tidak”, jawab Nabi.
            “Anda tadi solat di Betlehem, tempat Siti Maryam melahirkan Nabi Isa”, terang Jibril.
            Pada saat Nabi melakukan perjalanan dengan Buroq, tiba-tiba ia melihat Jin Ifrit mengejarnya sambil membawa api obor yang menjilat-jilat tiap kali beliau menengoknya. Mengetahui hal itu, Jibril pun berkata kepada Nabi:
            “Apakah Anda ingin tahu doa untuk memadamkan nyala api itu?”.
            “Ya”, jawab Rasulullah Saw.
            Lalu Jibril berkata:
            “Ucapkanlah a’uudzu bi wajhillahi l-kariim, wa bi kalimaatillahi l-tammaati l-latiy laa yujaawizuuhunna birrun wa laa faajirun, min syaarri maa yanzilu min l-samaa;i wa min syarri maa dzara;a fi l-ardhi wa min maa yakhruju minhaa, wa min fitani l-layli wa l-nahaari, wa min thawaariqi l-layli illa thaariqan yathruqu bi khairin, Ya Rahmaan (artinya: ‘Aku berlindung hanya kepada Wajah Allah yang Maha Mulia dan dengan kalimah Allah yang Maha Sempurna, tidak ada kebaikan maupun keburukan yang dapat mengunggulinya, baik keburukan yang turun dari langit maupun yang keluar dari dalamnya, juga dari keburukan yang keluar dari bumi berupa fitnah di malam hari maupun fitnah di siang hari, serta jalan-jalan di malam hari maupun siang hari, kecuali jalan yang dilalui dengan kebaikan, wahai Dzat Yang Maha Pengasih’. Selesai dibacakan doa, padamlah api tersebut.
            Selanjutnya mereka melanjutkan perjalanan hingga tiba …[HAL. 8]… pada suatu kaum yang sedang menanam gandum di satu hari dan memanennya di hari yang lain. Tiap kali mereka selesai memanen, kembali memanen lagi seperti semula dan seterusnya berulang-ulang seperti itu. Melihat peristiwa itu, Nabi bertanya:
            “Wahai Jibril, apa maksudnya ini”.
            “Mereka adalah orang-orang yang tekun berjuang di jalan Allah Swt, sehingga Dia melipatgandakan pahala mereka sampai 700 kali lipat, sedangkan Allah tidak akan memandang harta mereka karena Dia-lah Dzat Yang Maha Berbeda dengan makhluk-Nya”, jawab Jibril.
            Berikutnya Nabi mencium bau yang wangi lalu menanyakannya pada Jibril:
            “Bau apakah ini?”
            “Inilah bau wangi Siti Masyitoh, seorang budak Fir’aun dan putrid-putrinya”, jawab Jibril.
            Pada saat Masyitoh sedang menyisir rambut putrid Fir’aun, tiba-tiba sisirnya jatuh dan spontan Masyitoh berucap:
            “Demi menyebut Asma Allah, celakalah Fir’aun!”.
            Mendengar hal itu, putri Fir’aun bertanya:
            “Apakah kamu bertuhan kepada selain ayahku?”.
            “Ya”, jawab Masyitoh.
            “Tidakkah kamu takut akan saya laporkan kepada ayahku?”, ancamnya.
            “Silahkan saja”, jawab Masyitoh tenang.
            Seketika putrid Fir’aun melaporkan ihwal tersebut kepada ayahnya. Akhirnya Fir’aun pun memanggil Masyitoh dan menginterogasinya:
            “Apakah kamu bertuhan kepada selain aku?”.
            “Benar, tuhanku dan tuhanmu adalah Allah”, jawab Masyitoh.
            Karena Masyitoh mempunyai dua orang anak dan seorang suami, Fir’aun juga memanggil dan menyuruh mereka agar mau kembali dari agamanya. Namun keduanya tetap tidak bersedia, Fir’aun pun mengancam:
            “Sungguh aku akan membunuh kalian berdua!”.
            “Sebaiknya jika kamu sudah membunuh kami nanti, tempatkanlah kami dalam satu tempat!”, pinta Masyitoh.
            “Itu sudah menjadi hakku terhadap kamu”, jawab Fir’aun ketus.
            Lalu Fir’aun memerintahkan pasukannya agar menyiapkan sebuah tungku raksasa yang terbuat dari perak dipanaskan di atas bara api. Kemudian menyuruh Masyitoh dan keluarganya untuk mencebur ke dalamnya. Mereka pun menceburkan diri satu persatu hingga tiba giliran anaknya yang paling kecil dan masih menyusui. Tiba-tiba ia bisa bicara meyakinkan ibunya:
            “Wahai ibu, mari kita menceburkan diri dan usah menunda lagi karena kita memang berada di jalan yang benar”.
            Seketika menceburlah Masyitoh dan keluarganya.
            Menurut suatu riwayat, dalam liang tersebut tersimpan empat keluarga jenazah. Mereka adalah keluarga Masyitoh, nabi Yusuf, sahabat Juraih, dan Isa bin Maryam. [HAL. 9].
            [HAL.10] Berikutnya Nabi tiba pada sekelompok orang yang sedang berusaha meremukkan kepala mereka sendiri. Tiap kali kepalanya telah remuk, seketika kembali menjadi utuh seperti semula. Hal itu terus terjadi tanpa henti. Nabi pun bertanya pada Jibril:
            “Siapakah mereka?”
            “Merekalah orang-orang yang berat kepala mengerjakan salat wajib”, terang Jibril.
            Berikutnya lagi Nabi menjumpai sekelompok orang yang menutupi kemaluan depan dan belakang mereka. Sehingga mereka hanya bisa bergeletakan layaknya unta dan kambing yang memakan ranting-ranting pohon kering dan kayu zaqqum, …[HAL.11]… sedangkan neraka dan kayu bakarnya membara. Melihat ihwal tersebut, Nabi bertanya pada Jibril:
            “Siapakah mereka?”.
            “Mereka adalah orang-orang yang tidak mensedekahkan hartanya, oleh karena itulah Allah menganiaya mereka”, jelas Jibril.
            Berikutnya Nabi menjumpai sekelompok orang yang memiliki daging segar di dalam panci dan daging lain yang anyir dan busuk. Namun mereka memilih memakan daging yang anyir lagi busuk dan malah mengabaikan daging yang segar dan bersih. Nabi pun bertanya pada Jibril:
            “Apa maksudnya ini?”.
            “inilah gambaran umatmu nanti jelas sudah beristri secara halal dan sah namun memilih mendatangi wanita border dan menidurinya sampai pagi. Sebaliknya, istrinya yang sah malah menceraikannya dan tidur dengan laki-laki yang bukan pasangannya sampai pagi”, terang Jibril.
            Berikutnya Nabi juga menjumpai setumpuk kayu di tengah jalan yang jika seseorang melewatinya, sobeklah pakaiannya karena tersangkut. Nabi menanyakannya pada Jibril:
            “Apa maksudnya ini?”
            “Ini adalah perumpamaan umatmu nanti yang suka nongkrong di jalan dan mengganggu lalu lintas jalan”, jelasnya. Lantas Jibril dan Nabi pun menegur mereka:
            “Janganlah kalian duduk-duduk di jalan manapun!”.
            Mereka malah mengancam dan semakin berpaling dari jalan Allah.
            Berikutnya Nabi mendatangi seorang laki-laki yang mengumpulkan setumpuk kayu bakar namun tidak mampu membawanya karena dia terus menambahi beban bawaannya itu. Melihat ihwal tersebut, beliau bertanya:
            “Hai Jibril, apa maksudnya ini?”.
            “Inilah gambaran umatmu nanti jika diberi kepercayaan publik namun tidak mampu melaksanakannya bahkan ingin terus menambahi bebannya sendiri”, terang Jibril.
            Berikutnya Nabi menjumpai sekelompok orang yang sedang memotong lidah dan bibir mereka sendiri dengan gunting besi. Tiap kali terpotong seketika kembali menjadi utuh seperti semula dan begitu seterusnya. Nabi menanyakan ihwal tersebut pada Jibril:
            “Hai Jibril, siapakah mereka?”.
            “Merekalah orang-orang yang bicara penuh fitnah, yaitu umatmu yang suka mengatakan apa yang dia sendiri tidak pernah melakukannya”, jawab Jibril.
            Berikutnya Nabi juga menjumpai orang-orang yang berkuku tembaga sedang mencakar wajah dan dada mereka sendiri. Nabi pun menanyakannya lagi pada Jibril:
            “Siapakah mereka?”
            “Mereka adalah orang-orang yang memakan daging manusia karena dengan laba hutang”, jawab Jibril.
            Berikutnya Nabi tiba di sebuah gua kecil, tempat dimana seekor sapi jantan yang besar keluar. Tiba-tiba sapi itu ingin masuk kembali kedalam gua tetapi tidak bisa. Nabi pun menanyakannya pada Jibril:
            “Inilah perumpamaan umatmu yang banyak bicara bohong tapi kemudian menyesalinya dan tidak bisa meralat perkataannya tadi”, jelas Jibril.
            Berikutnya, ketika Nabi sedang melanjutkan perjalanan tiba-tiba ada orang yang memanggilnya dari samping kanan beliau:
            “Hai Muhammad, tengoklah kesini aku membutuhkanmu”.
            Namun beliau tidak menggubrisnya dan bertanya kepada Jibril:
            “Apa artinya ini?”.
            “Orang yang memanggil tadi adalah seorang Yahudi. Jika Anda tadi menanggapinya …[HAL.12]… maka umatmu akan menjadi Yahudi”, jawab Jibril.
            Berikutnya lagi ketika Nabi melanjutkan perjalanan tiba-tiba ada orang yang memanggilnya dari arah kiri:
            “Hai Muhammad, tengoklah kesini aku membutuhkanmu”.
            Namun beliau tidak menggubrisnya balik menanyakannya kepada Jibril:
            “Apa artinya ini?”.
            “Orang yang memanggilmu tadi ialah seorang Nasrani. Kalaupun Anda tadi menanggapinya maka umatmu akan menjadi Nasrani”, jawab Jibril.
            Ketika Nabi sedang melanjutkan perjalanan lagi tiba-tiba ada seorang perempuan dengan kedua lengan terbuka dan memakai berbagai perhiasan yang diciptakan oleh Allah Swt di kepalanya.
            “Hai Muhammad, tengoklah kemari aku membutukanmu”, sapa perempuan itu menggoda Nabi.
            Lagi-lagi beliau tidak menoleh dan bertanya kepada Jibril:
            “Siapakah dia?”.
            “Itulah gambaran dunia. Kalaupun Anda tadi meresponnya bisa saja umatmu akan memilih bergelimpang dunia daripada akhirat”, jelas Jibril.
            Lalu Nabi melanjutkan perjalanan sebelum tiba-tiba ada ada orang tua di pinggir jalan memanggilnya:
            “Hai Muhammad, tolong kemarilah”.
            “Tetaplah berjalan kedepan, hai Muhammad”, cegah Jibril seketika.
            “Siapakah dia?”, Tanya Nabi.
            “Dialah iblis sang musuh Allah yang menginginkan Anda berpihak kepadanya”, jelas Jibril singkat.
            Nabi meneruskan perjalanan tiba-tiba beliau dihadang dengan seorang nenek di pinggir jalan yang memanggilnya:
            “Hai Muhammad, tengoklah kemari aku membutuhkanmu”.
            Nabi tetap tidak menoleh lagi dan menanyakannya pada Jibril:
            “Siapakah dia?”
            “Inilah perumpamaan usia dunia yang tersisa layaknya usia orang jompo”, terang Jibril.
            Kembali Nabi melanjutkan perjalanan hingga sampailah di kota Baitul Maqdis. Beliau masuk melalui pintu Yamani sebelum akhirnya turun dari Buraq dan mengikatkannya pada sebuah pintu masjid dengan seutas tali yang dulu pernah dipakai para nabi sebelumnya.
            Dalam suatu riwayat, Jibril menghampiri sebuah bejana terbuat dari porselin, lalu memasukkan jari jemarinya ke dalamnya dan mengikatkan Buraq pada bejana tersebut dengan kuat. Kemudian beliau masuk masjid melalui sebuah pintu tempat bertemunya bayang sinar matahari dan bulan.
            Di dalam masjid, Nabi dan Jibril melakukan salat masing-masing dua rakaat. Tidak berselang lama kemudian berkumpullah banyak orang. Nabi mengenalkan cara berdiri, ruku’, dan sujud kepada para nabi. Lalu sang muadzin mengumandangkan adzan dan iqamat. Mereka pun berdiri membentuk shaf-shaf sambil menunggu siapa yang akan mengimami mereka. Seketika Jibril memohon kesediaan Nabi Muhammad Saw. Beliau pun maju dan salat berjamaah bersama para nabi.
            Diriwayatkan dari Ka’ab bahwa Jibril meminta para malaikat turun dari langit. [HAL.13]… Kemudian Allah memerintahkan Jibril untuk mengumpulkan para rasul dan nabi. Segera Nabi Muhammad Saw melaksanakan salat bersama para malaikat dan rasul. Setelah bubar, Jibril menanyai Nabi:
            “Tidak”, jawab Nabi
            “Allah telah mengutus para nabi, mereka pun memanjatkan puji kepada-Nya dengan pujian yang indah”, terang Jibril.
            “Jika mereka memuji kepada Allah, aku pun juga begitu”, sahut Nabi Muhammad Saw. Lalu beliau menyatakan ungkapan hatinya:
            “Segala puji bagi Allah Dzat yang telah mengutus aku menjadi rasul rahmat bagi semesta alam. Juga bagi segenap umat manusia untuk menyampaikan berita gembira maupun peringatan. Dia menurunkan Alqur’an kepadaku. Di dalamnya terkandung penjelasan tentang segala sesuatu dan menjadikan umatku sebagai umat terbaik yang membebaskan manus ia serta menjadikan mereka tengah-tengah. Dia menjadikan umatku sebagai golongan yang pertama dan yang terakhir. Dia melapangkan dadaku, meringankan bebanku, dan mengangkat namaku, serta menjadikan aku sebagai pembuka syafaat dan penutup para nabi”.
            “Karena itulah Allah melebihkanmu, wahai Muhammad”, seru Ibrahim Saw seketika.
            Pengalaman selanjutnya tiba-tiba Nabi merasakan dahaga yang sangat dan belum pernah dirasakan sebelumnya. Segera Jibril menghampiri Nabi dengan membawakan segelas khamar dan segelas susu, namun beliau hanya memilih susu.
            “Anda telah memilih fitrah, kalaupun Anda tadi meminum khamar maka umatmu akan celaka dan sedikit pengikutmu”, kata Jibril setelah tahu pilihan Nabi.
            [HAL.14] Dalam suatu riwayat disebutkan bahwa terdapat tiga buah gelas. Gelas yang ketiganya berisi air.
            “Andaikan tadi engkau meminum air saja umatmu mungkin akan tenggelam”, kata Jibril kepada Nabi Muhammad Saw.
            Dalam suatu riwayat lain diceritakan, salah satu dari ketiga gelas yang ditawarkan kepada Nabi adalah berisi madu yang serupa dengan air yang menenggelamkan.
            Di perjalanan berikutnya Nabi melihat sesosok makhluk dengan mata yang sangat besar dan hitam pekat ada di sisi kiri beliau. Nabi mengucapkan salam dan dia membalasnya. Nabi pun bertanya lalu mereka bercerita perihal kejadian yang menimpa mata mereka.
            Tibalah Nabi melakukan mi’raj dimana para arwah keturunan nabi Adam naik. Suatu tempat paling indah yang pernah diciptakan. Memiliki tangga yang terbuat dari emas dan perak surge Firdaus …[HAL.15]… tersusun rapi dengan mutiara di sisi kanan kirinya yang dijaga malaikat.
            Setelah itu Nabi dan Jibril naik sampai ke ujung gerbang langit dunia. Beliau diberitahu bahwa itulah pintu Hafadzah yang dijaga oleh malaikat. Nabi juga dipertemukan dengan malaikat Ismail, penjaga langit dunia. Bertempat di atas angin, sama sekali tidak pernah naik ke langit dan tidak pula turun ke bum i, kecuali pada hari meninggalnya Nabi Saw. Dia menguasai 70.000 malaikat. Tiap malaikat membawahi 70.000 bala tentara malaikat.
            Seketika Jibril minta dibukakan pintu langit namun ditanya malaikat penjaga gerbang terlebih dahulu:
            “Siapakah ini?”.
            “Aku Jibril”, jawabnya.
            “Siapa yang bersamamu?”, tanya penjaga.
            “Dialah Muhammad”, jawab Jibril. “Allah telah menjadikannya seorang Rasul”, tambahnya.
            Dalam riwayat lain diceritakan, penjaga bertanya lagi menegaskan:
            “Allah telah mengutusnya!?”.
            “Ya”, jawab Jibril.
            “Selamat datang wahai Nabi. Semoga Allah memberikan umur panjang kepada para Ahli bait, baik kepada saudara maupun para khalifah. Sebaik-baik saudara dan khalifah sama baiknya dengan seorang yang telah mendakwahinya”, sambut malaikat penjaga setelah benar-benar yakin bahwa dialah sang Utusan Allah. Lalu dibukakanlah pintu langit untuk Jibril dan Nabi.
            Pada saat …[HAL.16]… keduanya tiba, seketika di sana sudah ada Nabi Adam As. Dialah bapak manusia karena begitulah wujud pertama kali manusia diciptakan oleh Allah. Nabi ditunjukkan pada arwah para nabi dan keturunannya yang beriman. Jibril berkata kepada ruh baik:
            “Tinggallah kalian di surga ‘Illiyyin”.
            Nabi  juga ditunjukkan dengan arwah orang kafir dan keturunannya yang kufur. Jibril pun berkata kepada ruh jahat:
            “Tinggallah kalian di neraka Sijjin!”.
            Tiba-tiba dari samping kanan Nabi melihat seorang perempuan dan sebuah pintu yang mengeluarkan bau yang wangi. Sedangkan dari samping kiri Nabi melihat seorang perempuan dan sebuah pintu yang mengeluarkan bau yang busuk dan tengik. Sampai-sampai ketika Nabi menoleh ke kanan beliau tertawa senang. Namun ketika menoleh kiri beliau nampak bersedih.
            Nabi Adam lalu mengucapkan salam kepada Nabi Saw, beliau pun membalasnya.
            “Selamat datang wahai putra yang  sempurna dan sang nabi penutup”, sambut Adam kepada beliau.
            “Siapakah dia?”, tanya Nabi pada ruh Jibril.
            “Inilah bapakmu, sang nabi Adam, dan perempuan ini adalah hembusan ruh tulang rusuknya’, jelas JIbril.
            “Golongan kanan adalah penghuni surga, dan golongan kiri adalah penghuni neraka. Sehingga ketika Nabi menengok ke kanan, beliau tertawa dan bahagia. Sedangkan ketika ganti menengok ke kiri beliau menangis dan sedih.
            Adapun pintu yang ada di sisi kanan Nabi merupakan pintu surga. Sehingga siapapun pengikutnya yang memasuki pintu itu pastilah akan tertawa dan senang. Sedangkan pintu di sebelah kiri beliau adalah pintu neraka Jahannam, sehingga siapapun pengikut Nabi yang memasukinya pastilah akan menangis dan sedih.
            Sebentar kemudian Nabi melanjutkan perjalanan hingga menjumpai orang yang suka makan riba, harta anak yatim, suka berzina, dan lain sebagainya dalam kondisi yang memprihatinkan dikarenakan perbuatannya pada masa lalu, Muhammad pun turut prihatin.
            Selanjutnya Nabi naik menuju ke langit kedua. Jibril minta dibukakan pintu langit dan ditanya:
            “Siapakah ini?”.
            “Saya Jibril?”, jawabnya.
            “Siapakah yang bersamamu?”, ditanya lagi.
            “Muhammad”, jawab Jibril.
            “Apakah dia diutus Allah?”, ditanyanya.
            “Ya, benar”, jawab Jibril.
            “Selamat datang hai Muhammad. Semoga Allah memberikan umur panjang kepada para Ahli Bait, saudara dan para khalifah. Sebaik-baik saudara dan khalifah begitu pula orang yang mendatangi mereka sendiri”, sambut malaikat penjaga.
            Lalu dibukakanlah pintu langit untuk Jibril dan Nabi. Pada saat keduanya sampai …[HAL.17]… seketika beliau bertemu dengan dua putra keponakan, yaitu Isa bin Maryam dan Yahya bin Zakariya. Salah seorang diantara mereka hamper mirip dengan sahabat Nabi dalam hal pakaian dan rambut. Mereka berdua membawa seorang pengikut masing-masing.
            Isa bertubuh pendek semampai, berkulit merah keputih-putihan, berambut kucir seperti bulu merpati yang menyembul. Mirip dengan Urwah bin Mas’ud ats Tsaqafiy.
            Nabi Muhammad Saw mengucapkan salam kepada mereka berdua lalu mereka membalasnya.
            “Selamat datang wahai saudara mudaku dan sang nabi penutup”, sambut mereka.
            Mereka pun berdoa demi kebaikan Nabi Saw.
            Selanjutnya Nabi naik menuju langit ketiga. Jibril minta dibukakan pintu langit, namun ditanya terlebih dahulu.                                        
            “Siapakah ini?”.
            “Aku Jibril’, jawab Jibril.
            “Siapakah yang bersamamu?”, ditanya.
             “Dialah Muhammad?”, jawabnya.
            “Apakah dia diutus oleh Allah?”, tanya penjaga.
            “Iya, benar”, jawab Jibril.
            “Selamat datang wahai Nabi. Semoga Allah menganugrahi umur panjang kepada para Ahli Bait, saudara, dan para khalifah. Sungguh beruntung para khalifah dan saudara yang didatangi nabi”, sambut malaikat penjaga.

PROPOSAL PENELITIAN


PROPOSAL PENELITIAN
PARADIGMA DAN KONTRIBUSI ORGANISASI-ORGANISASI PERGERAKAN MAHASISWA DARI BERBAGAI CORAK AGAMA DI YOGYAKARTA TERHADAP ISU KEBEBASAN BERAGAMA; ANTARA IDEALITA DAN REALITA

Proposal Penelitian ini diajukan untuk memenuhi persyaratan ‘Penelitian Kompetitif 2010’ yang diadakan oleh Puslitbang Kementerian Agama Republik Indonesia



Penulis

Cholid Ma’arif
NIM. 06110006




PELAKSANA HARIAN
TAKMIR MASJID UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SUNAN KALIJAGA YOGYAKARTA
2010









A.    LATAR BELAKANG

Dalam Alqur’an disebutkan surah Al Baqarah ayat 123 yang berbunyi: “Manusia itu adalah satu umat. (Setelah timbul perselisihan), maka Allah mengutus para Nabi sebagai pembawa kabar gembira dan pemberi peringatan, dan beserta mereka Ia turunkan kitab-kitab dengan benar, supaya dia bisa memberi keputusan antara manusia tentang perkara yang mereka perselisihkan”. 

Menurut ‘bacaan’ Abdul aziz Sachedina, dalam The Islamic Roots of Democratics Pluralisme, pada ayat itu muncul tiga fakta: kesatuan umat di bawah satu Tuhan; kekhususan agama-agama yang dibawa oleh para nabi; dan peranan wahyu (kitab suci) dalam mendamaikan perbedaan di antara berbagai umat beragama. Ketiga konsepsi tersebut menyiratkan adanya pengakuan keberagaman atau pluralisme oleh Alqur’an. Pengakuan untuk saling membutuhkan serta menumbuhkan pemahaman yang lebih baik antar umat beragama.

Dalam studi keagamaan, ada empat definisi mengenai agama, yaitu: creed, code, cult, and community. Creed adalah kepercayaan tentang sesuatu yang secara mutlak di anggap benar bagi kehidupan manusia. Code; pedoman tata tindak (perilaku) yang timbul  akibat adanya kepercayaan di atas. Cult; upaya manusia untuk menyelaraskan dirinya dengan yang dipercayai tadi, baik sebagai cara untuk memahami kehendaknya atau memperbaiki kembali kesalahan manusia yang tidak sesuai dengan kehendak kepercayaan tadi. Serta community; adanya kenyataan suatu umat yang terikat dalam kepercayaan, tindakan etik dan kultus tadi.[1] Sehingga ketika keempat syarat tadi mampu dipenuhi oleh sebuah lembaga atau institusi maka hal itu bisa disebut dengan istilah agama.    

Namun dalam perkembangannya kemudian, agama menjadi pisau bermata dua. satu sisi historis kemunculannya ia berperan sebagai pembela Hak Asasi Manusia dengan peran para nabi terdahulu yang membela kaum tertindas seperti nabi Isa, Musa, Muhammad Saw, dan sebagainya. Di sisi lain ia seakan menjadi ‘kambing hitam’ yang beberapa golongan dengan justifikasi sakralitasnya bias saja mengarahkan pada hal yang baik maupun buruk.  Meminjam istilah  Clifford Geertz, agama bias menjadi kekuatan integrasi dan disintregasi suatu tatanan masyarakat. Artinya, agama menduduki posisi signifikan dalam kesadaran sosial dan rasional pada masyarakat dalam menentukan pilihan dan tindakan yang akan diambil. 

Tarik-menarik antara kesadaran social dan rasional tersebut salah satunya terejawantahkan dalam fisik gerakan insan akademis sekalipun, yaitu mahasiswa. Menurut Setiyo Yuli Handono, mahasiswa merupakan sebentuk gelar sosial akademik  yang diberikan pada seseorang yang menuntut jenjang pendidikan lebih tinggi setelah melalui 12 tahun pendidikan di bangku SD, SMP, dan SMA. Sehingga disamping sebagai pelajar, mahasiswa dituntut senantiasa menuang kan ide kreatifnya, berpikir kritis dalam menyikapi fakta di masyarakat dan menjadi agen perubahan sosial ( social agent of change) untuk mengantarkan masyarakat pada kondisi yang lebih baik.
 
Berawal dari konsep agen perubahan sosial inilah Arbi Sanit menyimpulkan lima sebab yang menjadikan mahasiswa peka terhadap permasalahan kemasyarakatan sehingga mendorong mereka untuk melakukan perubahan. Pertama, sebagai kelompok masyarakat yang memperoleh pendidikan terbaik, mahasiswa mempunyai pandangan luas untuk dapat bergerak di antara semua lapisan masyarakat. Kedua, sebagai kelompok masyarakat yang paling lama mengalami pendidikan, mahasiswa telah mengalami proses sosialisasi politik terpanjang di antara angkatan muda. Ketiga, kehidupan kampus membentuk gaya hidup unik melalui akulturasi sosial budaya yang tinggi diantara mereka. Keempat mahasiswa sebagai golongan yang akan memasuki lapisan atas susunan kekua saan, struktur ekonomi, dan akan memiliki kelebihan tertentu dalam masyarakat,dengan kata lain adalah kelompok elit di kalangan kaum muda. Kelima,seringnya mahasiswa terlibat dalam pemikiran, perbincangan dan penelitian berbagai masalah masyarakat. 

Dalam realita kekinian -khususnya peran mahasiswa dalam merespon isu kebebasan beragama berbanding balik dengan isu HAM, terjadinya beberapa demonstrasi maupun bentrok antar mahasiswa yang satu sama lain mengklaim sebagai aktifis social maupun aktifis keagamaan. Berdasarkan pengamatan penulis, gesekan antar aktifis pergerakan ini mempunyai dua kecenderungan; Pertama, pandangan subjektif yang semata-mata menjalankan amanat ideologi organisasi baik yang berorientasi pada kebangsaan maupun keagamaan secara politis. Kedua, pandangan objektif yang murni melihat isu kebebasan beragama dan HAM ini sebagai concern gerakan. 

Sikap penerapan standar ganda di kalangan mahasiswa ini cukup membingungkan bagi masyarakat maupun publik serta aparatur pemerintahan. Kembali mengingat akan gerak ideal mahasiswa sebagai ‘agent social of change’ yang banyak mata memandang mereka sekaligus sebagai tumpuan pemimpin masa depan bangsa. 


B.     RUMUSAN MASALAH

Perumusan masalah merupakan penjelasan mengenai alasan mengapa masalah yang dikemukakan dalam penelitian ini dianggap menarik, penting, dan perlu untuk diteliti. Perumusan masalah juga merupakan suatu usaha yang menyatakan pertanyaan-pertanyaan penelitian apa saja yang perlu dijawab dan dicari jalan pemecahannya. Atau dengan kata lain, perumusan masalah merupakan pertanyaan yang lengkap dan rinci mengenai ruang lingkup persoalan yang akan diteliti didasarkan pada identifikasi masalah dan pembatasan masalah.[2] Sehingga berdasarkan latar belakang di atas, penulis dapat simpulkan beberapa pertanyaan yang patut diajukan: 

1. Apa sajakah macam organisasi mahasiswa pergerakan dari berbagai agama yang ada di DI Yogyakarta?
2.  Sejauh manakah peran keagamaan mereka masing-masing dalam organisasi mahasiswa pergerakan dari berbagai agama? 
3. Lalu sejauh mana pulakah dasar pemikiran dan kontribusi mahasiswa pergerakan berbagai agama terhadap urgenitas isu kebebasan beragama dan keagamaan mereka? 
4. Bagaimanakah solusi yang tepat untuk mengantarkan pemahaman mahasiswa pergerakan dari berbagai agama dalam bingkai kebijakan pemerintah tentang kebebasan beragama dan batasan-batasan kebebasan tersebut?


C.    TUJUAN PENELITIAN

Tujuan sebuah kajian atau penulisan adalah rumusan singkat dalam menjawab masalah penulisan sebagaimana yang di jelaskan oleh Kaelan, (2005:234). Oleh karena itu, tujuan kajian ini adalah diharapkan dapat mendeskripsikan paradigma berpikir dan bertindak serta kontribusi dan perans serta organisasi mahasiswa pergerakan dari berbagai agama terhadap isu kebebasan beragama  kaitannya dengan sikap keagamaan di wilayah DI Yogyakarta yang dapat penulis paparkan dalam pernyataan berikut ini:

1.      Memaparkan bentuk dan macam organisasi mahasiswa pergerakan dari berbagai agama di Yogyakarta.
2.      Mendeskripsikan pengaruh sosial politik keagamaan masing-masing organisasi terhadap landasan berpikir dan bertindak
3.      Mendeskripsikan paradigma dan kontribusi masing-masing organisasi pergerakan dari berbagai agama terhadap isu kebebasan agama dan keagamaan mereka.
4.      Merekomendasikan suatu solusi bersama yang mungkin dicapai dari tiap organisasi mahasiswa pergerakan dari berbagai agama di DI Yogyakarta tersebut.


D.    RUANG LINGKUP MASALAH

Ruang lingkup penelitian dibatasi lebih pada untuk mengetahui paradigm, konstruk berfikir, dan kontribusi serta peran aktif organisasi mahasiswa pergerakan dari berbagai agama yang ada di wilayah Daerah Istimewa Yogyakarta, seperti: PMII (Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia), GMNI (Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia), KAMMI (Kesatuan Aksi Mahasiswa Muslim Indonesia), HTI (Hizbut Tahrir Indonesia), FMN (Front Mahasiswa Nasional), gerakan mahasiswa Kristen, serikat mahasiswa Katolik, Hindu, Budha, Konghucu, dan sebagainya yang masing-masing mempunyai corak dan latar belakang agama dan ideologi yang berbeda-beda.


E.     SIGNIFIKASI MASALAH

Penelitian ini menjadi penting dikarenakan beberapa hal sebagai berikut:

1.      Fenomena kebangsaan dimana pemuda mahasiswa dengan organisasinya menjadi proses pembentukan karakter bangsa yang beraneka agama.
2.      Perlunya diketahui dan teliti lebih lanjut dan mendalam terkait dengan pola dan concern organisasi mahasiswa berbagai agama terhadap isu kebebasan beragama dan sikap keberagamaannya.
3.      Harapan dicapainya sebuah kesimpulan dan rekomendasi untuk mencapai kemufakatan bersama dalam lingkaran masyarakat dan Negara terkait perumusan kebijakan akan isu tersebut.


F.      KERANGKA TEORI

Sejauh ini, istilah kebebasan berarti keadaan tiadanya penghalang, paksaan, beban atau kewajiban. Lebih lanjut ada beberapa pengertian pokok mengenai kebebasan, antara lain:[3]
 
1.      Kebebasan pada umumnya adalah keadaan tidak dipaksa atau ditentukan oleh sesuatu dari luar, selama kebebasan disatukan dengan kemampuan internal definitive dari penentuan diri.
2.      Penentuan diri sendiri, pengendalian diri dan pengarahan diri>
3.      Kemampuan dari seorang pelaku untuk berbuat atau tidak berbuat sesuai dengan apa yang disukai, atau yang menjadi penyebab dari tindakan-tindakan sendiri.
4.      Didorong dan diarahkan oleh motif, ideal, keinginan dan dorongan yang dapat diterima sebagaimana dilawankan dengan paksaan, atau rintangan (kendala) eksternal maupun internal.
5.      Kemampuan untuk memilih dan kesempatan untuk memenuhi atau memperoleh pilihan itu.

Sedangkan terminologi “agama” sendiri menurut bahasa Sanskerta terdiri dari dua suku kata, yakni: “a” yang berarti tidak, dan “gama” yang berarti “kacau atau pergi”.[4]  Jadi, artu agama adalah tidak pergi, tidak kacau, tetap tinggal, dan diwarisi turun temurun. Menurut Hatim Gazali adalah washilah (perantara) bagi manusia untuk sampai pada Tuhan (Taqarrub ila Allah).[5] Robert N. Bellah[6] menegaskan bahwa agama adalah instrument ilahiyah untuk memahami manusia. Semua agama-agama yang ada itu hadir sebagai media untuk menemukan Yang Suci (The Sacred) atau Yang Satu (The One) atau yang disebut oleh Rodolf Otto sebagai the ultimate reality atau sensus numinous.

Dengan demikian ada keterkaiotan yang dilematis antara makna kebebasan dengan keagamaan itu sendiri. Khususnya dalam bingkai kenegaraan dan pemerinatahan yang mengatur sekian hak dan kewajiban yang satu sisi menuntut kepatuhan dan ketundukan dari tiap individu warganya. Dalam hal ini Undang-Undang Dasar memberi “semua orang hak untuk beribadah sesuai keyakinannya masingmasing,” dan menyatakan bahwa “negara berlandaskan keyakinan kepada Tuhan Yang Maha Esa,” dan pemerintah biasanya menghargai ketentuan-ketentuan ini; namun, ada sejumlah pembatasan pada jenis kegiatan keagamaan tertentu dan agama-agama yang tidak diakui

Antara diakui dan tidak diakuinya suatu kepercayaan seringkali menimbulkanfriksi-friksi di antara golongan masyarakat. Dan salah satu yang berperan memainkan friksi tersebut adalah kalangan mahasiswa yang tentunya juga tidak berangkat dari nol. Status intelektual ini mengusung sekian idealisme organisasi pergerakannya masing-masing sebagai representasi tiap agama yang dianutnya. Di lain sisi, realita sering mengecoh kepercayaan masyarakat trlait dengan beberapa tindakan yang menjurus pada anarkisme karena dilatar belakangi perbedaan pandangan dalam saling membela dan mempertahankan, baik itu atas nama kebebasan beragama maupun keagamaan mereka sendiri.


G.    METODOLOGI PENELITIAN

Dalam penelitian ini penulis menggunakan model penelitian kualitatif dalam mengurai setting penelitian ini. Karena metode ini lebih sensitif dan dapat diadaptasi dengan mempertimbangkan saling berpindahnya pengaruh dan pola nilai yang mungkin dihadapi dalam penelitian.[7] Dari sini dapat dirancang langkah selanjutnya adalah sebagai berikut:

1.      Teknik Pengumpulan Data
Teknik pengumpulan data yang tepat dalam penelitian ini adalah;[8]
Pertama, wawancara secara mendalam. Karena penelitian kualitatif ini memliki cirri-ciri tak terstruktur, tak dibakukan, dan terbuka (open-ended). Sehingga wawancara tersebut merupakan pertemuan langsung secara berulang-ulang antara peneliti dan informan yang diarahkan pada pemahaman pandangan informan dalam hal kehidupan, pengalamannya, atau situasi-situasi yang dialaminya, yang diungkapkan dengan kata-kata informasn itu sendiri. Wawancara ini nantinya akan meliputi: sejarah hidup atau otobiografi sosiologis, mempelajari kegiatan yang tidak dapat diamati secara langsung, dan memperoleh gambaran secara luas mengenai kelompok latar, situasi, atau manusia.

Kedua, pengamatan dengan berpartisipasi. Yaitu suatu teknik pengumpulan data yang melibatkan interaksi antara peneliti dan informasi selama pengumpulan data yang dilakukan peneliti secara sistematis tanpa menampakkan diri sebagai peneliti. Boghdan dan Taylor (1984: 17) membagi pertanyaan dalam penelitian berupa pertanyaan substantif dan pertanyaan teoritik. Pertanyaan substantif terkait dengan persoalan yang khas dalam suatu tipe latar, sedangkan pertanyaan teoritik terkait dengan hubungan persoalan yang bersifat mendasar.

2.      Sasaran Penelitian
Adapun pihak-pihak yang menjadi sasaran penelitian adalah:
a.       Aktifis mahasiswa / pemimpin organisasi pergerakan dari berbagai latar belakang agama yang berdomisili di DI Yogyakarta.
b.      Para tokoh dan atau alumni dari berbagai organisasi tersebut.

`           3. Data yang Dihimpun
Hasil penelitian kualitatif diharapkan berwujud deskripsi yang berbobot tentang kehidupan social (Bogdan dan Taylor, 1984: 124).[9] Sehingga dalam hal ini berbagai data yang mutlak dikumpulkan  adalah sebagai berikut:
a.       Nama, jumlah, dan bentuk organisasi mahasiswa pergerakan dari berbagai agama di DI Yogyakarta.
b.      Paradigma dan kontribusi mereka tentang isu kebebasan beragama dan tingkat pemahaman keagamaan dari tiap organisasi.

4.   Teknik Analisis Data
Sebagaimana Lincoln dan Guba (1985: 301-314),[10] disini penulia akan menggunakan lima teknik dalam menganalisis data untuk mencapai kredibilitas penelitian kualitatif, yaitu: (1) kegiatan, (2) tanya jawab dengan sejawat, (3) analisis kasus negative, (4) referensi yang cukup, dan (5) pengecekan oleh subjek penelitian.



E.     JADWAL PENELITIAN

No.
Kegiatan
Waktu
1
Persiapan pelaksanaan kegiatan
27 Juni 15 Agustus 2010
2
Observasi ke pimpinan organisasi PMII, HMI, KAMMI, IMM, dan HTI cabang Yogyakarta.
16 – 25 Juli 2010  
3
Observasi ke pimpinan organisasi GMNI, FMN, KEMPED, MARHAEN  cabang Yogyakarta.
27 Juli – 05 Agustus 2010
4
Observasi ke pimpinan organisasi gerakan mahasiswa Kristen / Katolik di Yogyakarta.
08 – 16 Agustus 2010
5
Observasi ke pimpinan organisasi gerakan mahasiswa Hindu – Budha di Yogyakarta.
17 – 27 Agustus 2010
6
Observasi ke pimpinan organisasi gerakan mahasiswa Ahmadiyyah, LDII di Yogyakarta.
29 Agustus – 03 September  2010
7
Membuat kode serta menganalisis data
04 – 09 September 2010
8
Memproses hipótesis dan menyajikan temuan
10 – 16 September 2010

































F.     DAFTAR PUSTAKA
 
Prof. Dr. S. Nasution, M.A. – Prof. Dr. M. Thomas. 2002. Buku Penuntun Membuat Tesis Skripsi Disertasi Makalah. Jakarta : PT Bumi Aksara

Dr. Suroso. 2009. Penelitian Tindakan Kelas; Peningkatan Kemampuan Menulis Melalui Classroom Action Research. Yogyakarta : Pararaton (Group Elmatera)

Pius A Partanto – M. Dahlan  Al Barry. 1994. Kamus Ilmiah Populer. Surabaya : Penerbit Arkola.
Ali Usman (Ed.) 2006. Kebebasan; Dalam Perbincangan Filsafat, Pendidikan, dan Agama. Yogyakarta : BEM Aqidah dan Filsafat UIN Sunan Kalijaga & Penerbit Pilar Media
.
Dr. Ali Syu’aibi – Gils Kibil. 2004. Meluruskan Radikalisme Islam (Terj.). Ciputat : Penerbit Pustaka Azhary 

Fajrul Falaakh. 2001. NU, Kebebasan Beragama, dan Tantangan Oslo[1] « PMII Komisariat Gadjah Mada UGM_files. htm

Dr. Nurcholish Madjid. 1995. Islam Agama Kemanusiaan. Jakarta : Penerbit Yayasan Wakaf  Paramadina.

Theodor Kampschulte. 2001. Situasi HAM di Indonesia:Kebebasan Beragama dan Aksi Kekerasan. Penerbit Missio : Aachen

Setiyo Yuli Handoyono, SP. ____. Perubahan Paradigma Mahasiswa. Surabaya : dalam Opini bulletin Ca’Pony.

Haqqul Yaqin. 2009. Agama dan Kekerasan: Dalam Transisi Demokrasi Di Indonesia. Yogyakarta :  Penerbit Elsaq

Sugeng Sugiono, Dkk (Ed.). 2008. Menguak Sisi-sisi Khazanah Peradaban Islam. Yogyakarta : Penerbit Adab Press.

Dr. Waryono (Ed.) 2007. Keilmuan; Integrasi dan Interkoneksi Bidang Agama dan Sosial. Yogyakarta : Penerbit Lembaga Penelitian UIN Sunan Kalijaga





G.    SISTEMATIKA PENULISAN

HALAMAN JUDUL
ABSTRAKSI
KATA PENGANTAR
DAFTAR ISI

BAB I: PENDAHULUAN
a.       Latar Belakang Masalah
b.      Rumusan Masalah
c.       Tujuan Penelitian
d.      Ruang Lingkup Penelitian
e.       Signifikansi Masalah
f.       Kerangka Teori
g.      Metodologi Penelitian
h.      Jadwal Penelitian
i.        Daftar Pustaka
j.        Sistematika Penulisan

BAB II: ANALISIS MODEL ORGANISASI GERAKAN MAHASISWA DARI BERBAGAI AGAMA DI YOGYAKARTA
a.       Macam-macam Organisasi Gerakan Mahasiswa dari Berbagai Agama 
b.      Landasan Organisasi dan Program Kerja di bidang Keagamaan dan Kemanusiaan

BAB IV: PARADIGMA DAN KONTRIBUSI ORGANISASI GERAKAN MAHASSIWA BERBAGAI AGAMA TERHADAP KEBEBASAN BERAGAMA
a.       Konstruk Berpikir dan Motif Organisasi yang Pro Kebebasan Beragama
b.      Konstruk Berpikir dan Motif Organisasi yang Kontra Kebebasan Beragama
c.       Integrasi dan Solusi yang ,Mungkin Disepakati Kedua Belah Pihak

BAB V: PENUTUP
a.       Pelaporan Data dan Persentase
b.      Kesimpulan
c.       Saran dan Rekomendasi

DAFTAR PUSTAKA
RIWAYAT PENULIS 




Lampiran
SURAT PERNYATAAN

Yang bertandatangan di bawah ini, saya:

Nama                                    : CHOLID MA’ARIF
Tempat, tanggal lahir      : MADIUN, 15 JUNI 2010
Institusi/Lembaga            : TAKMIR MASJID UIN SUNAN KALIJAGA YOGYAKARTA
Judul proposal                   : PARADIGMA DAN KONTRIBUSI ORGANISASI PERGERAKAN
MAHASISWA BERBAGAI AGAMA DI YOGYAKARTA TERHADAP ISU KEBEBASAN BERAGAMA

dengan sesungguhnya menyatakan bahwa proposal penelitian dengan judul sebagai­mana tersebut di atas, adalah asli/otentik dan bersifat orisinal hasil karya saya sendiri (bukan berupa skripsi, tesis, dan disertasi dan tidak plagiasi).  Saya bersedia menerima sanksi hukum jika suatu saat terbukti bahwa proposal penelitian ini hasil plagiasi.

Demikian pernyataan ini saya buat, untuk diketahui oleh pihak-pihak yang membutuhkan.


                                                                                  Yogyakarta, 26 Juni  2010
Mengetahui,                        


Text Box: Materai
Rp 6.000,-
 




Prof. Drs. H. Saad Abdul Wahid
Ketua Takmir Masjid UIN
Yang membuat pernyataan,




Cholid Ma’arif
Pelaksana Harian























BIODATA DIRI  PENULIS

Nama Lengkap                        : Cholid Ma’arif
No. KTP                                  : 351903 150687 0002
Tempat, tanggal lahir              : Madiun, 15 Juni 1987
Alamat Asal                            : Ds. Sambirejo RT. 01/01 Kec. Geger Kab. Madiun, Jawa Timur
                                                 Telp. 0351 – 369 990 Kode Pos 63171.
Alamat Kantor                        : Sekretariat Takmir Masjid Kampus UIN Sunan Kalijaga  
                                                 Jalan Laksda Adisucipto Yogyakarta kode pos 55281.
Nomor HP / Email                  : 085 233 934 616 / cholidmaarif@yahoo.com


Yogyakarta, 26 Juni 2010


Yang membuat pernyataan,


Cholid Ma’arif









CURRICULUM VITAE PENULIS

Nama Lengkap            : Cholid Ma’arif
Tempat, tanggal lahir  : Madiun, 15 Juni 1987
Alamat Asal                : Ds. Sambirejo RT. 01/01 Kec. Geger Kab. Madiun, Jawa Timur
Alamat sekarang         : Sekretariat Takmir Masjid Kampus UIN Sunan Kalijaga  Yogyakarta
Status                          : Mahasiswa
NIM / Fakultas / Jurusan: 06110006 / Adab dan Ilmu Budaya / Bahasa dan Sastra Arab
Riwayat Pendidikan   : 1. MI Miftahul Khoirot Sambirejo Geger Madiun, 1995 - 2001
                                      2. MTs Mu’alimien Uteran Geger Madiun, 2001- 2003
                                      3. MAKN Denanyar Jombang, 2003 – 2006
                                      4. UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, 2006 – sekarang.
Pengalaman                 : 1. Delegasi UIN dalam Mubes Asosiasi Masjid Kampus Indonesia 
                                        (AMKI) Sebagai peserta di ITB Bandung pada bulan Agustus 2008.
                                     2. Delegasi UIN dalam Perkemahan Wirakarya Ke-10 Departemen
                                       Agama RI di IAIN Jambi paa bulan Juni 2009.
Nomor HP / Email      : 085 233 934 616 / cholidmaarif@yahoo.com
Yogyakarta, 26 Juni 2010
Mengetahui,               





Prof. Drs. H. Saad Abdul Wahid
Ketua Takmir Masjid UIN
Yang membuat pernyataan,





Cholid Ma’arif
Pelaksana Harian






[1] Shofiyullah Mz, 2006. “Quo Vadis Kebebasan Beragama?” dalam  kumpulan tulisan ‘Kebebasan; Dalam Perbincangan Filsafat, Pendidikan, dan Agama’ BEM Aqidah dan Filsafat UIN Sunan Kalijaga bekerjasama dengan Pilar Media. Yogyakarta; halaman 155-156.
[2] Husani Usman dan Purnomo. Metodologi Penelitian Sosial, Bandung; Bumi Aksara, 2004, hal. 26
[3] Lorens Bagus, Kamus Filsafat (Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama, 2002), hlm 406.
[4] Somad Zawawi, dkk. Pendidikan Agama Islam, Jakarta. Penerbit Universitas Trisakti, 2004, hal 19.
[5] Hatim Gazali. Memperjuangkan Kebebasan Berakal dan Beragama. Kumpulan tulisan Pilar Media : Yogyakarta, 2006, hlm 139.
[6]  Robert N. Bellah. Beyond Belief : Esai-esai Tentang Agama di Dunia Modern, terj. (Jakarta: Paramadina, 2000) hlm 203.
[7] Dr. Suroso. Penelitian Tindakan Kelas; Peningkatan  Kemampuan Menulis Melalui Classroom Action Research. Penerbit Pararaton, Yogyakarta. 2009, hal 22.
[8] Ibid., hal 23.
[9] Ibid., hal 24.
[10] Ibid., hal 27.