Sabtu, 25 September 2010

"PRINSIP SINTAKSIS BAHASA ARAB DAN KRITIKNYA"


oleh خالد معارف pada 25 Juni 2009 jam 6:13
 
PENDAHULUAN

Menurut sejarahnya, bahasa arab sebagai salah satu referensi yang mutlak bagi perkembangan ilmu pengetahuan dan peradaban manusia secara luas –Islam khususnya- meng-generalisasi-kan adanya formatisasi kebahasaan (linguistic) secara umum pula. Hubungan simbiotik linguistik kemudian terjadi dalam tubuh bahasa arab dengan segala perangkatnya memposisikan ilmu nahwu sebagai 'ibu'-nya bahasa arab, dan ilmu shorof selaku 'bapak'-nya denan adagium (ألنحو ابوها والصرف أمها). Dalam bahasa pesantren memang ilmu nahwu dengan berbagai varian metodiknya sangat berperan sebagai 'ibu' dalam proses analisis ke-bahasa arab-an khususnya. Sehingga pengetahuan tentang prinsip-prinsip dan konsep ilmu nahwu menjadi suatu yang integral dan komplikatif bagi mind-concepting pemahaman bahasa arab yang memerinci pada bentuk isim (kata benda), fi'il (kata kerja), dan harf (huruf) dan para-mode lain termasuk dlorof zaman (keterangan waktu) yang mempengaruhi, berikut perubahan kalimat akibat hubungan interkoneksitas satu sama lainnya membentuk struktur yang baku.
Kegelisahan atas segala kemapanan pun akhirnya terusik dengan munculnya sikap kritis-konstruktif Ibnu Maymun tidak hanya mempertanyakan kembali efektivitas ilmu nahwu kaitannya bagi daras moral dan teologi masyarakat islam, tetapi juga kepada kredibilitas "empu"-nya ilmu nahwu yang dalam pengamatannya lebih tidak seimbang dengan intelektualitas yang digeluti para ahli nahwu itu sendiri dalam beretika ketuhanan khususnya.
Sedianya dalam penulisan makalah ini akan kami lengkapi dengan berbagai literatur yang ada. Yaitu mengungkap pembahasan yang tidak hanya berkutat pada sistematisasi isim (kata nama), fi'il (kata kerja), dan harf (kata huruf) saja, melainkan juga di situ ada maksud pembahasan tentang i'rab (perubahan awal-akhir kata), bina' (struktur baku kata), dan sebagainya. Termasuk contoh analisa kritis ibnu maymun dengan paradigma tasawufnya terhadap ilmu nahwu secara konkrit. Namun, mengingat segala keterbatasan waktu dan materi, tak ada rotan kayu pun jadi. Singkatnya, segala kritik perbaikan dalam penulisan makalah ini -baik materi maupun redaksi- yang jauh dari harapan sangat kami harapkan demi upaya pembangunan aras ilmiah penulisan selanjutnya. Wallahu l-muwafiq ila aqwami th-thoriq.

Materi:
PRINSIP DASAR SINTAKSIS BAHASA ARAB DAN KRITIKNYA


A. Pengertian dan Prinsip Sintaksis / Nahwu
Secara umum, ada banyak batasan sintaksis yang telah dikemukakan oleh para linguis, Crystal (1980:346) mendefinisikan sintaksis sebagai telaah tentang kaidah-kaidah yang mengatur cara kata-kata dikombinasikan untuk membentuk kalimat dalam suatu bahasa. Tidak beda jauh dengan sintaksis dalam versi bahasa arab yang mengalami penamaan sebagai Ilmu Nahwu, yaitu ilmu yang membahas tentang kaidah-kaidah yang digunakan untuk mengetahui hukum kalimat Arab, keadaan susunan i’rab dan bina’nya dan syarat-syarat nawasikh, kembalinya ‘aid yang mengikutinya.
Kemunculan ilmu nahwu bukanlah suatu hal yang tanpa sengaja. Yakni berangkat dari beberapa kasus bahasa pada masa shahabat kaitannya dengan cara baca al-Qur'an. Lebih rincinya telah dipaparkan pada makalah-makalah terdahulu, yaitu contoh kasus pada struktur kalimat: "ma-ahsana s-sama_a"مااءحسن السماء!)), dan juga contoh ayat: ""innallãha barãun minal musyrikina wa rasãluhu" (...اءن الله برء من المشركين ورسوله)... Dari sini kemudian menjadi tolok ukur eksistensi topik ilmu nahwu yang bertujuan mengantisipasi timbulnya kesalahan dan dapat menolong untuk memahami firman-firman Allah Subhanahu wa Ta’ala dan sabda-sabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam.
Kemuliaan ilmu nahwu berkat kemuliaan kegunaannya. Dengan asumsi dasar keutamaan ilmu nahwu terletak pada keunggulannya sendiri dibandingkan ilmu-ilmu tersebut dan menjadi i’tibar (bahan perbandingan). Hal ini didasarkan pada akar paradigma keilmuan islam yang berhulu pada sumber utama al-Qur'an dan al-Hadits sebagai karakteristik 'ulumul islamiyyah. Kemudian berhilir pada tiga ranah keilmuan islam, meliputi: 'ulumul syari'ah (hukum), 'ulumul lisaniyyah (bahasa), dan 'ulumul jughrafiyyah (geografi). Pada aras 'ulumul lisaniyyah kemudian berujung pada ilmu nahwu salah satunya. Singkatnya, ilmu nahwu sebagai pisau analitik bahasa memegang posisi yang signifikan dalam proses pemahaman bahasa arab, lebih khusus terkait dengan kaidah-kaidahnya.
Konkritnya, ada satu hal yang terlebih penting sebelum mendalami sebuah buku atau kitab arab, yaitu mengenal dasar-dasar ilmu yang sepuluh (al-Mabadi al-'Asyarah) dari buku tersebut. Diantaranya, mengenal siapa pelopor ilmu tersebut [Ahmad bin Muhammad bin as-Suhaimi, Syarah hud hud, 1988, 3]. Teristimewa ilmu nahwu merupakan ilmu yang pertama kali dibukukan dalam Islam, karena berkaitan dengan memelihara lisan dari kesalahan ketika membaca al-Qur an. Disamping itu, ilmu Nahwu juga termasuk kategori ilmu pembantu menjelaskan dalam mempelajari ilmu-ilmu lainnya. Misalnya, ilmu Usul Fiqh [Muhammad Shidq Hasan Khan al-Qinnaj, al-Jama al-ahkam Wa Usul al-Fiqh, 1998, 7]. Tidak salah kiranya hukumnya mempelajari ilmu nahwu ada yang wajib kifayah di semua jurusan dan wajib ‘ain bagi peminat (spesialis) Ilmu Tafsir dan Hadits.
B. Dasar-Dasar Ilmu Nahwu
Kunci dalam mempelajari bahasa adalah banyaknya kosa kata yang dimiliki (dihafal) dan menerapkannya di dalam kalimat, dengan demikian ia akan mampu berbahasa dalam bahasa tersebut, namun hal itu belum menjamin keselamatan ungkapan dari kepahaman dan ketidakpahaman pendengar atau lawan berbicara yang disebabkan oleh kesalahan penggunaan suatu kaedah, terutama dalam bahasa arab yang penuh dengan berbagai macam kaedah yang mana bila salah dalam menggunakannya maka akan berakibat fatal terhadap arti dan maksud dari ungkapan tersebut.
Dalam berbicara dan menyampaikan maksud kepada orang lain, tidak akan terlepas dari untaian kata-kata yang terangkai dalam suatu kalimat, dalam bahasa arabnya disebut dengan الكلام yaitu kalimat sempurna, terdiri dari dua kata atau lebih, baik terdiri dari dua isim (kata benda), misalnya الاتحاد قوة (persatuan adalah power), atau terdiri dari fi'íl (kata kerja) dan Isim (kata benda), misalnya عاد المسافر (telah kembali para musafir), atau terdiri dari fiíl amr misalnya, استَقِمْ dan faíl-nya dhamir tersembunyi (mustatir). Kesemuanya itu menunjukkan bahwa kalimat tesusun dari beberapa kata dan mempunyai arti yang sempurna.
Kata الكلمة secara bahasa berasal dari kata كلم yang berarti melukai dengan anggota tubuh جرح kemudian arti tersebut lebih dikhususkan pada lafadz yang diletakkan terhadap arti tertentu. Kadang kata الكلمة yang digunakan namun makna yang dimaksudkan adalah "kalimah", misalnya dalam Al Quran: (كلا إنَّها كلمة هو قائلها) Lafadz اللفظ mencakup الكلمة dan الكلام yaitu suara yang terdiri dari beberapa huruf, sedangkan القول yaitu apa-apa yang diucapkan baik itu sempurna maupun tidak sempurna.
Macam-Macam Kata
Setiap kalimat tersusun dari beberapa kata yang mempunyai arti yang mana dapat menunjukkan akan kedudukan dari kata tersebut di dalam kalimat, misalnya dalam bahasa Indonesia dikenal dengan istilah SPO (subjek, predikat dan objek), begitu pun halnya dalam bahasa Arab. Sedangkan "kata" itu sendiri di dalam bahasa Arab terbagi menjadi tiga, yaitu:
1. Isim الاسم (Kata benda): Isim secara bahasa adalah nama, yaitu sebutan yang menunjukkan suatu yang dinamakan, apakah sebutan itu pada jenis atau pada unsurnya. Manusia ناس atau رَجُل adalah nama untuk suatu jenis yang dinamakan manusia atau laki-laki, dan Ahmad أحْمد adalah nama untuk individu yang dinamakan Ahmad. Semua kata ini adalah isim. Dalam pengertian yang paling sederhana merujuk padanan dalam bahasa Indonesia, maka isim adalah nominal. Sedangkan dalam istilah Nahwu, isim adalah suatu kata yang menunjukkan makna tersendiri dan tidak terikat dengan waktu.
- Tanda-Tanda Isim
Ada beberapa tanda yang terletak pada suatu kata yang menunjukkan bahwa jenis kata tersebut adalah isim. Tanda-tanda isim tersebut adalah:
a. Tanda dari Segi Artinya
- Subjek (fail) atau pemulaan kalimat (mubtada). Contohnya عاد المسافرون
- Isim di dini bersandar pada fi'íl (kata kerja) yang menunjukkan ia adalah fa'il, contoh mubtadaمسافر خالد .
b. Tanda dari Segi Lafadz-nya
- Tanwin التنوين yaitu bunyi nun sukun pada akhir kalimat yang ditandai dengan harakat double ــًـ ــٍـ ــٌـ. Contohnya, خالدٌ atau زيدٍ,dan قانتاتٍ.
- Dapat dimasuki dan dihubungkan dengan Alif dan Lam, ألـ pada awal kata. Contohnya, الكاتب = seorang penulis.
- Dapat dimasuki oleh Jarr الجر. Contohnya, الحراس على السطحِ , kata "sathi" dibaca kasrah karena dimasuki oleh huruf jar yaitu Ála.
- Boleh dimasuki oleh harf nida (panggilan) contoh, يا زيدُ (hai Zaid) dimasuki oleh Ya harf nida.
- Kata tersebut dapat dirubah bentuknya menjadi bentuk tashgir التصغير (mengecilkan) contoh, جبل (gunung) menjadi جبيل (gunung kecil).
- Kata tersebut dapat dijadikan mutsanna (yang menunjukan atas dua) dan jama'. Contoh, طالبان، طلاب، طالبون، طالبات
2. Fi'il الفِعل: Fi’il secara bahasa berarti kejadian atau pekerjaan. Dan padanannya dalam bahasa Indonesia adalah kata kerja atau verbal. Sedangkan dalam istilah nahwu, Fi’il adalah kata yang menunjukkan suatu makna tersendiri dan terikat dengan salah satu dari tiga bentuk waktu; masa lampau, masa sekarang, dan masa yang akan datang.
Tanda-tanda Fi’il yang paling utama, baik fiíl madhi, mudhari’dan Amar secara umum ketika berada dalam struktur kalimat adalah:
Kata tersebut didahului oleh قد .
Tanda fi’il yang kedua adalah suatu kata itu didahului Huruf sin السينُ atau huruf saufa سوفَ.
Tanda fi’il ketiga adalah ta ta’nis sakinah تاءُ التَّأنيث السَّاكنَة yaitu huruf ta sukun yang masuk pada akhir kata. Tanda ini hanya untuk fi’il madhi saja dan fungsinya adalah untuk menunjukkan bahwa isim yang terpaut dengan predikat ini berbentuk feminin (muannas).
Tanda fi’il keempat adalah suatu kata yang menunjukkan makna tuntutan dan kata tersebut bisa menerima ya mukhathabah ياء المخاطبة atau nun taukid نُونَ التَّوكيد.
3. Huruf الحرف
Huruf adalah jenis kata yang berfungsi sebagai kata bantu, yaitu kata yang mengandung makna yang tidak berdiri sendiri. Maknanya hanya bisa diketahui dengan bersandingan dengan kata lain, baik isim atau Fi’il. sesuai dengan fungsi maknanya, dan terbagi menjadi tiga macam, yaitu:
- Huruf yang dapat masuk ke isim maupun fiíl, dan huruf tersebut tidak mempunyai kedudukan apa apa dalam I’rab. Contoh, kata "hal" هَلْ dalam وَهَلْ أَتَاكَ حديث الغاشية.
- Huruf yang dikhususkan pada isim, dan huruf tersebut mempunyai fungsi serta kedudukannya dalam I’rab. Contoh, huruf Inna إنّ dan Fi في, dalam Al Quran : إنّ الله يحب الذين يقاتلون في سبيله.
- Huruf yang dikhususkan tehadap Fiíl dimana huruf-huruf tersebut mempunyai kedudukan dan fungsi dalam I’rab. Contoh, huruf Nashab dan Jazam.
C. KRITIK NAHWU IBNU MAYMUN
Kalau soal subyek, ini mungkin biasa. Tapi, soal konteks sangat unik. Entah karena ia pengagum berat kitab Ajurumiyah atau karena ia berdarah Maroko sehingga menulis kitab ini menjadi seperti sebuah parodi yang sengaja ia lemparkan ke hadapan publik. Dalam pengantarnya, Ibnu Maymun bilang: Nahwu ada dua: nahwu mulut dan nahwu hati. Menguasai nahwu hati lebih penting dan bermanfaat dibanding nahwu mulut.
Kitab ini memang jadi ungkapan keprihatinan Ibnu Maymun terhadap para pengemban pengetahuan. Ia bilang, ada orang yang tidak tahu rafa', nashab, tapi budi pekertinya sesuai al-Qur'an dan Sunnah. Sebaliknya, banyak ahli nahwu yang kelakuannya menyimpang. Sebelum anda tahu yang lain, seharusnya anda tahu Allah terlebih dahulu. Sebelum belajar nahwu, seharusnya kita jadi sufi dulu. Itulah paradigma ilmu pengetahuan menurut Ibnu Maymun.
Selain paradigma di atas, Ibnu Maymun memang membaca sebuah kesesuaian antara nahwu dan tasawuf. Ia terilhami oleh ucapan Syaikh al-Ajurumi dalam kitabnya: al-naât tabiâ li al-man'ut. Kalimat ini yang kemudian menjadi kran mengalirnya kesesuaian istilah-istilah nahwu dan tasawuf dalam ide Ibnu Maymun. Makhluk harus tunduk (tabiâ) kepada Khaliq, kata Ibnu Maymun mensyarahi bab na'at.
Tentu saja, Ibnu Maymun harus berjibaku dengan bahasa istilahi dalam mensyarahi nahwu dengan tasawuf. Ia mengartikan setiap istilah dalam nahwu dengan istilah dalam tasawuf. Dari sini terlihat kepiawaiannya dalam menggunakan dan memadukan istilah dalam disiplin nahwu dan tasawuf. Istilah-istilah gramatik menikung menjadi bahasa moral, teologis dan seringkali transenden.
Tapi, betapapun piawainya Ibnu Maymun dalam membidik harmoni terminologis nahwu-tasawuf, ia tetap berhadapan dengan dua dunia yang sama sekali berbeda. Maka, iapun kadang menyajikan harmoni itu secara sepotong-sepotong dan mengabaikan kaitan sintaksis.
Tak jarang, ia membelok tajam dengan memanfaatkan kesenjangan zhahir-bathin dan lafadz-ma'âna. Bila Ibnu Ajurum bilang: Pelaku (fail) berada di belakang kata kerja (fi'il), maka Ibnu Maymun bilang: Pada hakikatnya, pelaku berada di depan pekerjaan. Soalnya, pekerjaan muncul dari pelaku.
Sebagai salah satu referensi tasawuf, wacana yang disajikan al-Risalah al-Maymuniyah tidak terlalu istimewa. Cuma, kemasan dan konteks gramatika yang dipilih penulis betul-betul menjadi daya tarik yang luar biasa. Anda yang membaca akan dibawa pada kepiawaian penulis dalam penggunakan bahasa secara terminologis. Meskipun bisa jadi anda akan menemukan sedikit pemaksaan istilah di sini.
Setelah Ibnu Maymun, Abdul Qadir al-Kuhani juga melakukan hal yang sama. Ia mensyarahi Al-Ajurumiyah dengan tasawuf. Al-Kuhani rupanya terinspirasi oleh Ibnu Maymun. Dalam pengantarnya-pun, ia mengutip motivasi Ibnu Maymun dalam mensyarahi al-Ajurumiyah dengan tasawuf (Buletin Istinbat, Edisi Khusus Bulan Shafar 1425 H)


















IKHTISAR

Ilmu nahwu adalah ilmu yang mempelajari fungsi suatu kata dalam suatu kalimat bahasa Arab atau disebut juga Sintaksis ( tata kalimat ). Dalam penulisan di atas cukup menggambarkan pemetaan 'principal law' bukan hanya bagi kaidah ilmu nahwu, melainkan juga bagi paradigma keilmuan keislaman khususnya kaitannya dengan bahasa (linguistic).
Pertama, prinsip paradigma keilmuan ilmu nahwu lahir dari daras 'ulumul islamiyyah yang meliputi tiga komponen penting: 'ulumul syari'ah (hukum), 'ulumul lisaniyyah (bahasa), dan ulumul jughrafiyyah (kealaman). Satu hal yang menarik dari komponen tersebut adalah 'ulumul lisaniyyah' sebagai level bahasa terposisikan pada tingkatan kedua setelah 'ulumul syari'ah sebagai level hukum. Dalam hal ini bahasa arab bersama salah satu perangkat nahwunya mengupayakan inklusifitas keilmuan bagi khalayak dengan analisis bahasa yang sistematis.
Kedua, prinsip sistematisasi kaidah ilmu nahwu meruncing pada para-mode 'pisau-pisau' analisisnya bersejajar dengan barikade isim (nama), fi'il (kata kerja), harf (huruf), i'rab (perubahan awal-akhir kata), bina' (struktur kebakuan kata), dhorof zaman wa makan (keterangan waktu-tempat), dan masih banyak komponen lainnya. Hal ini lepas dari adanya perbedaan pandangan kebakuan kaidah-kaidah ilmu nahwu menurut perspektif aliran lain. Namun demikian pembahasan materi di atas -insyaallah- merupakan kaidah nahwu yang aktual dan aktual menurut validitas kenahwuan Abu L-Aswad Ad-Duali dan Imam As-Sibawaih sebagai rangkaian generalisasi dalam ranah formalisasi ilmu nahwu berstempel "akreditasi A" sepanjang sejarah Islam masa kini.
Di lain pihak, kegelisahan atas paradigma intern ilmu nahwu sendiri menemukan kerancuannya. Bertolak dari sosio-kultural keagamaan-teologis, Ibnu Maymun melontarkan kritis atas efektivitas keilmuan ilmu nahwu dan juga kredibilitas para ahli nahwu itu sendiri. Tidak aneh kemudian jika formatur karyanya dalam syarah Ajurumiyyah lebih menonjolkan pada aspek tasawwuf dalam upaya memahami gramatika bahasa dan ilmu nahwu. Dalam istilah lain, ideologisasi mistikisme ibnu maymun merombak formatisasi linguisme dalam perspektifnya. Wallahu a'lam bi sh-showab.


DAFTAR PUSTAKA




Al-Iskanda, Syeikh Ahmad – Al 'Ananiy, Syeikh Musthofa, 1916. Al-Wasith Fi Al-Adab L-'Arabiy Wa Tarikhuhu, Mesir; Daarul Ma'arif.
Al-Rajihy, Abduh, 1988. al-Nahw l-'Arabiy wa l-Durus l-Hadits Baths Fi l-Manhaj, Iskandaria; Darul Ma'rifah l-Jami'ah.
Harjono, Prof. Dr, dkk, 2006. Morfosintaksis, Bandung; Rineka Cipta.
www.google.com / Pondok Pesantren Sidogiri Online - NAHWU SUFI Paradigma Unik Ibnu Maymun di Balik Ajurumiyah.htm
www.google.com / Kafemuslimah

0 komentar:

Poskan Komentar